Showing posts with label Cerita Hati. Show all posts
Showing posts with label Cerita Hati. Show all posts

Friday, October 16, 2009

Perhatian Yang Menjerumuskan

Tak terasa sudah lama saya tidak mengupdate blog ini, banyak faktor penyebabnya , faktor yang utama adalah masalah adaptasi transisi dari dunia kampus ke dunia kerja yang tentunya butuh penyesuaian terutama dari segi manajemen waktu.

Oke, cukup segitu curhatnya, back to topic...

Contoh kasus:

Beberapa pekan ini seorang cewek sebutlah namanya bunga (seperti berita kriminal aja neh..) wajahnya berseri-seri setiap pagi bangun tidur, dibacanya SMS dari salah seorang teman cowoknya (sebutlah kumbang) yang isinya seperti ini “ di pagi yang dingin ini tubuh terasa beku, mari kita ambil wudhu dan menghadap Allah maka kehangatan akan datang” si bunga ini merasa gembira karena diperhatikan, Apalagi atas nama keimanan dan ketakwaan. Memang beberapa waktu terakhir bunga setiap pagi mendapat SMS ataupun Telepon yang mengingatkannya untuk ibadah. Iapun semakin semangat beribadah..

Lalu apa yang salah? Kasus itu dapat dilihat dari 2 sisi

1. Sisi pemberi perhatian , apa yang salah? SmS tersebut hanya tausyiah belaka bagus dan benar secara tekstualnya. Tapi bisa jadi buruk secara muatan dan motivasi. Jika si kumbang memang ingin memberi nasihat, mengapa hanya kepada bunga? Bukankah temannya yang lain juga berhak mendapat nasihat? Atau lebih amannya mengapa SMS itu tidak dikirimkan kepada teman yang sama-sama cowok saja? Jadi, motivasi si kumbang untuk memberi nasihat adalah sangat meragukan, ada motivasi lain dibaliknya. SMS/Telepon tersebut membuka pintu Riya’ dan Ujub, kenapa? Bisa jadi motivasi si kumbang adalah ingin menunjukkan kepada bunga kalo si kumbang itu rajin ibadahnya, pagi-pagi sudah bangun untuk sholat shubuh. Bukankah ini berbahaya, nilai ibadah bisa tidak berarti karena tercampur riya’.

2. Sisi Penerima perhatian, apa yang salah dengan semakin semangat beribadah? Lagi-lagi disini harus dilihat motivasinya. Apakah dia semakin giat beribadah benar-benar karena Allah (lillah). Apakah sama sekali tidak terbersit dihatinya untuk menunjukkan kepada si kumbang bahwa dia juga rajin beribadah. Dalam kasus seperti ini kadang si bunga akan menjawab SMS tersebut dengan menyebutkan ibadah yang telah di lakukannya, dan inilah yang diharapkan setan pembisik nafsu. Menceritakan amal ibadah dengan motivasi salah akan menghancurkan nilai ibadah itu. Atau begini, si bunga semakin rajin bangun pagi karena takut jika tidak bangun, dia malu jika tidak menjawab SMS/Telepon dari si kumbang dan semakin malu jika ditanya ternyata dia belum sholat shubuh. Sholatnya yang tepat waktu lebih ditujukan agar dia tidak malu jika ditanya orang lain.

Barangkali contoh kasus tersebut adalah sebagian kecil perilaku pemuda-pemudi muslim yang salah arah. Yang perlu dicermati bahwa jika perilaku tersebut terjangkit pada aktivis dakwah muda islam, tentunya sangat disayangkan jika mereka tidak dapat menata hati dengan ilmu yang mereka miliki.

Riya’ adalah penyakit hati yang halus namun berbahaya, saya sendiri juga ragu apakah tulisan-tulisan di blog ini benar-benar bersih tidak tercampur dengan unsur riya’. Biarlah Allah yang menilainya..

Cukup sekian artikel “come back” saya, Insya Allah pembahasan tentang riya’ akan saya lanjutkan di artikel selanutnya.

Saturday, August 23, 2008

Tentang teman “Virtual” ku

Tentang teman “Virtual” ku

Akhir-akhir aku menerima beberapa undangan pernikahan teman-teman sms-ku, sebuah kabar gembira tentunya. SMS itu membuat hatiku tertegun, tidak terasa satu persatu teman-teman akhwatku menikah.

Sebagian dari mereka, terus terang aku belum pernah melihat wajahnya secara langsung kecuali di foto yang terpasang si internet. Bahkan sebagian dari mereka aku cuma mengenal mereka dari artikel dan postingan postingannya di Internet ini. Walaupun ada beberapa yang pernah beberapa kali telpon-telponan dan SMSan. Mudah mudahan mereka tidak marah ketika aku menyebut mereka teman teman.

Ada rasa gembira ketika mereka menikah, gembira karena memang itulah sunah dari Rasulullah kita, jalur yang ditetapkan oleh Syariat kita. Mereka berhasil menggenapkan dien mereka, menyelamatkan mata dan diri mereka dengan sesuatu yang halal. Tidak ada kebahagiaan yang bisa ku perlihatkan selain bahagia ketika mereka tersenyum lega bahwa mereka telah menemukan pasangan hidupnya, sesuatu yang gampang gampang susah mereka dapatkan

Tapi pernikahan mereka -para akhwat- itu adalah pertanda bahwa ‘pertemananku’ dengan mereka harus aku cukupkan sampai disini, tidak akan ada lagi SMS dan telpon telponan. Tidak akan ada lagi balasan posting atau kirim kiriman email ataupun PM karena aku merasa ada yang lebih berhak atas mereka daripadaku yang hanya sebatas teman.

Ada suaminya yang berhak untuk cemburu ketika mereka –para akhwat- mendapatkan telpon atau SMS dari seorang ikhwan yang sama sekali tidak dikenal oleh suaminya walau itu hanya ucapan selamat atau just says hello, atau ketika para akhwat itu bercerita kepada suaminya bahwa ada ikhwan dari kota anu yang begini dan begitu di intranet dan suaminya itu tidak tahu siapa si ikhwan itu.

Ada suaminya yang berhak untuk marah ketika mereka –para akhwat- terlihat cengengesan dengan teman ikhwan dihadapannya ataupun dibelakangnya. Terlihat berduaan dengan ikhwan yang bukan mahromnya atau walaupun cuma bertemu karena alasan yang dicari cari semisal : pekerjaan dan tetanggaan.

Ada suaminya yang berhak mendapatkan kehormatan, untuk selalu dipintai ijinnya ketika kita, teman ikhwan dari istrinya mau sekedar bersilaturahim dengannya via telpon, SMS, Surat ataupun langsung datang kerumahnya.

‘Pertemananku’ dengan para akhwat itu aku cukupkan sampai disini.



Sunday, June 29, 2008

Wahai muslimah, Bacalah...

Kamu tau kenapa aku suka wanita itu pakai jilbab?
Jawabannya sederhana, karena mataku susah diajak kompromi. Bisa dibayangkan bagaimana aku harus mengontrol mataku ini mulai dari keluar pintu kost sampai kembali masuk kost lagi. Dan kamu tau? Di luar kampus, kemana arah mata memandang selalu saja membuat mata aku terbelalak. Hanya dua arah yang bisa membuat aku tenang, mendongak ke atas langit atau menunduk ke tanah. (untung dikampusku mayoritas penghuninya adalah wanita ”baik-baik”  )

Melihat kedepan ada perempuan berlenggok dengan seutas "Tank Top", noleh ke kiri pemandangan "Pinggul terbuka", menghindar kekanan ada sajian "Celana ketat plus You Can See", balik ke belakang dihadang oleh "Dada menantang!" Astaghfirullah... kemana lagi mata ini harus memandang?

Kalau aku berbicara nafsu, ow jelas sekali aku suka. Tapi sayang, aku tak ingin hidup ini dibaluti oleh nafsu. Aku juga butuh hidup dengan pemandangan yang membuat aku tenang. Aku ingin melihat wanita bukan sebagai objek pemuas mata. Tapi mereka adalah sosok yang anggun mempesona, kalau dipandang bikin sejuk di mata. Bukan paras yang membikin mata panas, membuat iman lepas ditarik oleh pikiran "ngeres" dan hatipun menjadi keras.

Andai wanita itu mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh laki-laki ketika melihat mereka berpakaian seksi, aku yakin mereka tak mau tampil seperti itu lagi. Kecuali bagi mereka yang memang punya niat untuk menarik lelaki untuk memakai aset berharga yang mereka punya.

Istilah seksi kalau boleh aku definisikan berdasar kata dasarnya adalah penuh daya tarik seks. Kalau ada wanita yang dibilang seksi oleh para lelaki, janganlah berbangga hati dulu. Sebagai seorang manusia yang punya fitrah dihormati dan dihargai semestinya kamu malu, karena penampilan seksi itu sudah membuat mata lelaki menelanjangi kamu, membayangkan kamu adalah objek syahwat dalam alam pikirannya. Berharap kamu melakukan lebih seksi, lebih... dan lebih lagi. Dan kamu tau apa kesimpulan yang ada dalam benak sang lelaki? Yaitu: kamu bisa diajak untuk begini dan begitu alias gampangan!

Mau tidak mau, sengaja ataupun tidak kamu sudah membuat diri kamu tidak dihargai dan dihormati oleh penampilan kamu sendiri yang kamu sajikan pada mata lelaki. Jika sesuatu yang buruk terjadi pada diri kamu, apa itu dengan kata-kata yang nyeleneh, pelecehan seksual atau mungkin sampai pada perkosaan. Siapa yang semestinya disalahkan? Aku yakin kamu menjawabnya "lelaki" bukan? Oh betapa tersiksanya menjadi seorang lelaki dijaman sekarang ini.

Kalau boleh aku ibaratkan, tak ada pembeli kalau tidak ada yang jual. Simpel saja, orang pasti akan beli kalau ada yang nawarin. Apalagi barang bagus itu gratis, wah pasti semua orang akan berebut untuk menerima. Nah apa bedanya dengan kamu menawarkan penampilan seksimu pada khalayak ramai, aku yakin siapa yang melihat ingin mencicipinya.

Begitulah seharian aku harus menahan penyiksaan pada mata ini. Bukan pada hari ini saja, rata-rata setiap harinya. Aku ingin protes, tapi mau protes ke mana? Apakah aku harus menikmatinya? tapi aku sungguh takut dengan Zat yang memberi mata ini. Bagaimana nanti aku mempertanggungjawabkan nanti? sungguh dilema yang berkepanjangan dalam hidup aku.

Jadi tak salah bukan kalau aku sering berdiam di ruangan kecil ini, duduk di depan komputer menyerap sekian juta elektron yang terpancar dari monitor, aku hanya ingin menahan pemandangan mata ini. Biarlah mata aku ini rusak oleh radiasi monitor, daripada aku tak bisa pertanggung jawabkan nantinya. Jadi tak salah juga bukan? kalau aku paling malas diajak ke mall, jjs, kafe, dan semacam tempat yang selalu menyajikan keseksian.

Aku yakin, banyak laki-laki yang punya dilema seperti aku ini. Mungkin ada yang menikmati, tetapi sebagian besar ada yang takut dan bingung harus berbuat apa. Bagi kalian para wanita apakah akan selalu bahkan semakin menyiksa kami sampai kami tak mampu lagi memikirkan mana yang baik dan mana yang buruk. Kemudian terpaksa mengambil kesimpulan menikmati pemandangan yang kamu tayangkan?

So, berjilbablah ... karena itu sungguh nyaman, tentram, anggun, cantik, mempersona dan tentunya sejuk dimata.

By Kruchild  : 2007


Saturday, February 23, 2008

Cinta Tak Berbalas

Kadang saya iri melihat orang-orang di sekeliling saya, disayangi oleh “seseorang”. Apalagi di bulan Februari. Di mana-mana nuansanya Valentine. Saya memang penganut “tiada pacaran sebelum akad”, tapi sebagai manusia kadang timbul juga perasaan ingin diperhatikan secara istimewa.

Saya tidak pernah tahu rasanya candle light dinner. Pun tidak pernah menerima bunga mawar merah. Tidak ada yang menawarkan jaketnya saat saya menggigil kedinginan. Atau berpegangan tangan sambil melihat hujan meteor. (Deuh, Meteor Garden banget! He..he...)

Yah, mungkin saya bisa merasakan sekilas hal-hal itu kalau saya sudah menikah. Mungkin. Mudah-mudahan. Tapi sampai saatnya tiba, bagaimana caranya supaya tidak kotor hati?

Lalu saya pun tersadar, tiga kata cinta yang saya rindukan itu sudah sering saya dengar. Orang tua saya selalu mengucapkannya. Memanggil saya dengan “sayang” betapapun saya telah menyusahkan dan sering menyakiti mereka. Mungkin mereka bahkan memanggil saya seperti itu sejak saya belum dilahirkan. Padahal belum tentu saya jadi anak yang bisa melapangkan mereka ke surga... Belum tentu bisa jadi kebanggaan... Jangan-jangan hanya jadi beban...

Tatapan cinta itu juga sering saya terima. Dari ibu yang bergadang menjaga saya yang tengah demam... Dari ayah yang dulu berhenti merokok agar bisa membeli makanan untuk saya... Dari teman yang beriring-iring menjenguk saya ketika dirawat di rumah sakit... Dari adik yang memeluk saya ketika bersedih. Dari sepupu yang berbagi makanan padahal ia juga lapar. Dari orang tua teman yang bersedia mengantarkan saya pulang larut malam. Betapa seringnya kita tidak menyadari...

Tidak hanya dari makhluk hidup. Kasih dari ciptaan Allah lainnya juga melimpah. Matahari yang menyinari dengan hangat. Udara dengan tekanan yang pas. Sampai cinta dari hal yang mungkin selama ini tidak terpikirkan. Saya pernah membaca tentang planet Jupiter. Sebagai planet terbesar di tata surya kita, Jupiter yang gravitasinya amat tinggi, seakan menarik bumi agar tidak tersedot ke arah matahari. Benda-benda langit yang akan menghantam bumi, juga ditarik oleh Jupiter. Kita dijaga! (Maaf buat anak astronomi kalau salah, tapi setahu saya sih kira-kira begitulah)

Di atas segalanya, tentu saja ada cinta Allah yang amat melimpah. Duh... Begitu banyaknya berbuat dosa, Allah masih berbaik hati membiarkan saya hidup... Masih membiarkan saya bersujud walau banyak tidak khusyunya. Padahal kalau Ia mau, mungkin saya pantas-pantas saja langsung dilemparkan ke neraka Jahannam... Coba, mana ada sih kebutuhan saya yang tidak Allah penuhi. Makanan selalu ada. Saya disekolahkan sampai tingkat tinggi. Anggota tubuh yang sempurna. Diberi kesehatan. Diberi kehidupan. Apalagi yang kurang? Tapi tetap saja, berbuat maksiat, dosa... Malu...

Tentu ada ujian dan kerikil di sepanjang kehidupan ini. Tapi bukankah itu bagian dari kasih-Nya juga? Bagaimana kita bisa merasakan kenikmatan jika tidak pernah tahu rasanya kepedihan? Buat saudaraku yang diuji Allah dengan cobaan, yakinlah bahwa itu cara Allah mencintai kita. Pasti ada hikmahnya. Pasti!

Jadi, selama ini ternyata saya bukan kekurangan cinta. Saya saja yang tidak pernah menyadarinya. Bahkan saya tenggelam dalam lautan cinta yang begitu murni.

Sekarang pertanyaannya, apa yang telah kita lakukan untuk membalasnya? Kalau saya, (malu nih..) sepertinya masih sering menyakiti orang lain. Sadar ataupun tidak sadar. Kalaupun tidak sampai menyakiti, rasanya masih sering tidak peduli dengan orang. Apalagi pada Allah... Begitu besarnya cinta Allah pada saya dan saya masih sering menyalahgunakannya. Mata tidak digunakan semestinya... Lisan kejam dan menyayat-nyayat... Waktu yang terbuang sia-sia...

Kalau sudah seperti ini, rasanya iri saya pada semua hal-hal yang berbau “pacaran pra nikah” hilang sudah. Minimal, berkurang drastislah. Siapa bilang saya tidak dicintai? Memang tidak ada yang mengantar-antar saya ke mana-mana, tapi Allah mengawal saya di setiap langkah. Tidak ada candle light dinner, tapi ada sebuah keluarga hangat yang menemani saya tiap makan malam. Tidak ada surat cinta, tapi bukankah Allah selalu memastikan kebutuhan saya terpenuhi? Bukankah itu juga cinta?

Entah cinta yang “resmi” itu akan datang di dunia atau tidak. Tapi ingin rasanya membalas semua cinta yang Allah ridhoi.

Tulisan ini bukan untuk curhat nasional. Yah, siapa tahu ada yang senasib dengan saya.
Yuk, kita coba sama-sama. Jangan sampai ada cinta halal yang tak terbalas...

Sunday, February 17, 2008

Cerita Hati


Takkan Pernah Sebanding



Sobat, pernahkah dirimu merasakan apa yang sedang kurasakan saat ini? Rasa bersalah yang teramat sangat. Jauh dari orang tua yang sekarang hanya tinggal berdua. Tak ada lagi putera-puteri yang tersisa. Semuanya berada dalam radius yang sangat jauh, menempuh episode kehidupan masing-masing. Betapa sepinya mereka. Sewaktu bayi, entah berapa kali kita mengganggu tidur nyenyak ayah yang mungkin sangat kelelahan setelah seharian bekerja untuk memenuhi kebutuhan kita. Mungkin juga kotoran kita ikut tertelan Ibu ketika kita buang “pup” di saat ibu sedang makan. Ibu juga tidak peduli ketika teman-temannya marah karena membatalkan acara yang sangat penting karena tiba-tiba anaknya sakit. Kekhawatiran demi kekhawatiran tiada pernah henti mengunjungi mereka setiap kali kita melangkah.

Beranjak dewasa, betapa tabahnya ayah dan Ibu menerima pembangkangan demi pembangkangan yang kita lakukan. Mereka hanya bisa mengelus dada karena teman-teman di luar sana lebih berarti daripada mereka. Jarang sekali sekali kita mau menyisakan waktu untuk menyelami mimik wajah mereka yang penuh kecemasan ketika kita pulang telat karena ayah dan ibu selalu menyambut kita dengan senyum. Sobat, pernahkah dirimu bangun tengah malam dan mendengar tangisan Ibu dalam doanya seperti yang pernah aku dengar? Tangisan dan doa itulah yang mengantar kesuksesan kita. Pernahkah kita tahu Ayah dan ibu terluka dan mengiba kepada Allah agar kita jangan dilaknat, agar Allah mau mengampuni kita dan memberikan kehidupan terbaik untuk kita? Astaghfirullaahal ‘adziim. Pernahkah kita berterimakasih ketika kita dapati ayah dan ibu berbicara berbisik-bisik karena takut membangunkan kita yang tertidur kelelahan? Pernahkah kita menghargai patah demi patah kata yang mereka susun sebaik mungkin untuk meminta maaf karena mereka tidak sengaja memecahkan kristal kecil hadiah ulang tahun dari teman kita? Pernahkah kita menyesal karena lupa menyertakan mereka di dalam doa? Ah, Sobat, betapa tak sebanding cinta dan pengorbanan mereka dengan balasan kasih sayang yang kita berikan.

Setelah dewasa dan bisa “menghidupi” diri sendiri, kita masih bisa melenggang ringan meninggalkan mereka (mereka ikhlas asal kita bahagia). Lalu? Mungkinkah kita bisa seperti Ismail as yang merelakan dirinya disembelih ayah kandung demi menuruti perintah Allah? Atau seperti Musa as yang dihanyutkan ketika bayi?
Ternyata kita masih sangat jauh... Lalu bakti seperti apakah yang bisa kita persembahkan? Sobat, bantu aku agar optimis! Ya, masih banyak waktu untuk membahagiakan mereka. Hal yang terkecil yang bisa kita lakukan adalah: tak mengatakan “tidak” ketika mereka menyuruh atau menginginkan sesuatu (tentu saja bukan yang bertentangan dengan agama) dan segera ambil alat komunikasi, hubungi mereka saat ini juga, sapa mereka dengan hangat, pastikan nada suara kita bahagia! Bahagiakan ayah, bahagiakan Ibu! Mulai dari sekarang, selagi Allah masih memberi kesempatan.

Walau takkan pernah sebanding, doa-doa kitalah yang mereka harapkan menemani di peristirahatan terakhir nanti.
Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami dan dosa kedua orang tua kami, kasihilah mereka sebagaimana mereka mengasihi kami sedari kecil. Jadikan kami termasuk anak-anak yang shaleh ya Allah hingga doa-doa kami termasuk doa-doa yang Engkau ijabah. Aamiin.

Saturday, February 16, 2008

xxx

Inikah kita??
Inikah masyarakat Kita??
Inikah masyarakat pemuda-pemudi penerus sekarang??
Menganggap cinta tapi buta akan cinta, menganggap Nafsu adalah Cinta. Bukankah cinta manusia berbaur nafsu??
Oh.. Tuhan, begitu lemahnya hambamu ini, kerap mengatasnamakan cinta untuk meraih kepuasan ego pri badi, mengkambing hitamkan Cinta untuk mendapatkan sesuatu yangg sampi kapanun takkan pernah puas…


Cinta pada-Mu, Tuhan

Betapa itu tak semudah mencintai “hamba”-Mu, sudah berulang kali aku mencoba untuk tetap berada dijalanmu, namun berulang kali itu pula aku kerap tersungkur jatuh..
Sungguh.. ini perjuangan hidup matiku yang tak mudah, karena hamba fakir dan lemah. Demi engkau aku rela lepaskan hidupku karena hanya Engkaulah yang maha mengerti aku . Engkaulah sang Maha Cinta, sang Maha Pecinta dan sang Maha kekasih itu.
Lihatlah Tuhan..
Mencintai hamba, dicinta hamba-Mu penuh syarat yang menipu, fana dan tak abadi. Hatiku ini kuserahkan dan kupasrahkan hanya pada-MU. Biarlah jasad ini tetap santu n, lapang dada dan jadi milik hamba-Mu, berbuat kebajikan dan bermanfaat atas manusia yag lain.
Jagakan aku tetap di jalan-Mu Tuhan…

Saturday, February 9, 2008

Dari sobatku yang Sholihah..

Dari sobatku yang Sholihah..

Imajiner Doa


Doa yang kupanjatkan ketika aku masih gadis, "Ya Allah beri aku calon suami yang baik, yang sholeh. Beri aku suami yang dapat kujadikan imam dalam keluargaku."

Doa yang kupanjatkan ketika selesai menikah, "Ya Allah beri aku anak yang sholeh dan sholehah, agar mereka dapat mendoakanku ketika nanti aku mati dan menjadi salah satu amalanku yang tidak pernah putus."

Doa yang kupanjatkan ketika anak-anakku lahir, "Ya Allah beri aku kesempatan menyekolahkan mereka di sekolah Islami yang baik meskipun mahal, beri aku rizki untuk itu ya Allah...."

Doa yang kupanjatkan ketika anak-anakku sudah mulai sekolah, "Ya Allah..... jadikan dia murid yang baik sehingga dia dapat bermoral Islami, agar dia bisa khatam Al Quran pada usia muda."

Doa yang kupanjatkan ketika anak-anakku sudah beranjak remaja, "Ya Allah jadikan anakku bukan pengikut arus modernisasi yang mengkhawatirkanku. Ya Allah aku tidak ingin ia mengumbar auratnya, karena dia ibarat buah yang sedang ranum."

Doa yang kupanjatkan ketika anak-anakku menjadi dewasa, "Ya Allah entengkan jodohnya, berilah jodoh yang sholeh pada mereka, yang bibit, bebet, bobotnya baik dan sesuai setara dengan keluarga kami."

Doa yang kupanjatkan ketika anakku menikah, "Ya Allah jangan kau putuskan tali ibu & anak ini, aku takut kehilangan perhatiannya dan takut kehilangan dia karena dia akan ikut suaminya."

Doa yang kupanjatkan ketika anakku akan melahirkan, "Ya Allah mudah-mudahan cucuku lahir dengan selamat. Aku inginkan nama pemberianku pada cucuku, karena aku ingin memanjangkan teritoria wibawaku sebagi ibu dari ibunya cucuku."

Ketika kupanjatkan doa-doa itu, aku membayangkan Allah tersenyum dan berkata......

"Engkau ingin suami yang baik dan sholeh sudahkah engkau sendiri baik dan sholehah? Engkau ingin suamimu jadi imam, akankah engkau jadi makmum yang baik?"

"Engkau ingin anak yang sholehah, sudahkah itu ada padamu dan pada suamimu. Jangan egois begitu, masak engkau ingin anak yang sholehah hanya karena engkau ingin mereka mendoakanmu. tentu mereka menjadi sholehah utama karena-Ku, karena aturan yang mereka ikuti haruslah aturan-Ku."

"Engkau ingin menyekolahkan anakmu di sekolah Islam, karena apa?...... prestige? ...... atau.... engkau tidak mau direpotkan dengan mendidik Islam padanya? Engkau juga harus belajar, Engkau juga harus bermoral Islami, Engkau juga harus membaca Al Quran dan berusaha mengkhatamkannya."

"Bagaimana engkau dapat menahan anakmu tidak menebarkan pesonanya dengan mengumbar aurat, kalau engkau sebagai ibunya jengah untuk menutup aurat? Sementara engkau tahu Aku wajibkan itu untuk keselamatan dan kehormatan umat-Ku."

"Engkau bicara bibit, bebet, bobot untuk calon menantumu, seolah engkau tidak percaya ayat 3 & 26 surat An Nuur dalam Al Quran-Ku. Percayalah kalau anakmu dari bibit, bebet, bobot yang baik maka yang sepadanlah yang dia akan dapatkan."

"Engkau hanya mengandung, melahirkan dan menyusui anakmu. Aku yang memiliki dia saja, Aku bebaskan dia dengan kehendaknya. Aku tetap mencintainya, meskipun dia berpaling dari-Ku, bahkan ketika dia melupakan-Ku. Aku tetap mencintainya."

"Anakmu adalah amanahmu, cucumu adalah amanah dari anakmu, berilah kebebasan untuk melepaskan busur anak panahnya sendiri yang menjadi amanahnya."

Lantas...... aku malu...... dengan imajinasiku sendiri....
aku malu......
aku malu akan tuntutanku.......
Maafkan aku ya Allah......
lantas aku malu dengan imajinasiku sendiri.

RESEP KUE CINTA

RESEP KUE CINTA

BAHAN:
1 pria sehat,
1 wanita sehat,
100% Komitmen,
2 pasang restu orang tua,
1 botol kasih sayang murni.

BUMBU:
1 balok besar humor,
25 gr rekreasi,
1 bungkus doa,
2 sendok teh telepon-teleponan,
Semuanya diaduk hingga merata dan mengembang.

TIPS:
Pilih pria dan wanita yang benar-benar matang dan seimbang.

  • Jangan yang satu terlalu tua dan yang lainnya terlalu muda karena dapat mempengaruhi kelezatan (sebaiknya dibeli di toserba bernama TEMPAT IBADAH, walaupun agak jual mahal tapi mutunya terjamin.)
  • Jangan beli di pasar yang bernama DISKOTIK atau PARTY karena walaupun modelnya bagus dan harum baunya tapi kadang menipu konsumen atau kadang menggunakan zat pewarna yang bisa merusak kesehatan.
  • Gunakan Kasih sayang cap “IMAN, HARAP & KASIH” yang telah mendapatkan penghargaan ISO dari Departemen Kesehatan dan Kerohanian.

CARA MEMASAK:

  • Pria dan Wanita dicuci bersih, buang semua masa lalunya sehingga tersisa niat yang murni.
  • Siapkan loyang yang telah diolesi dengan komitmen dan restu orang tua secara merata.
  • Masukkan niat yang murni ke dalam loyang dan panggang dengan api cinta, merata sekitar 30 menit di depan penghulu.
  • Biarkan di dalam loyang tadi dan sirami dengan semua bumbu di atas.
  • Kue siap dinikmati!

Catatan:
Kue ini dapat dinikmati oleh pembuatnya seumur hidup dan paling enak dinikmati dalam keadaan kasih yang hangat. Tapi kalau sudah agak dingin, tambahkan lagi humor segar secukupnya, rekreasi sesuai selera, serta beberapa potong doa kemudian dihangatkan lagi di oven bermerek “Tempat Ibadah” di atas api cinta. Setelah mulai hangat, jangan lupa telepon-teleponan bila berjauhan.

Selamat mencoba, dijamin semuanya halal koq!

Selamat menikmati dari ‘love’ bakery

Kritik dan Saran : www.friendster.com/kruchild

kruchild@gmail.com

Assalaamu'alaikum~~~~jaga hati, jaga panca indramu! jaga sikap + perbuatanmu,JANGANTURUTI NAFSU & AMARAHMU = INGAT! GUSTI ALLAH TIDAK PERNAH TIDUR = ->->-.>

PERKENALAN dari ku:

My photo
jakarta - kediri, alam raya, Indonesia
Dalam impian masa remajaku Kucoba kuangkat kembali karung-karung bernama harapan, ku terjatuh, Kucoba untuk bangkit kembali, Aku terjatuh dan aku terjatuh...... Entah berapa kali aku terjatuh, aku tak dapat menghitungnya, Namun aku masih bertahan, karena hidup tidaklah untuk mengeluh dan mengaduh Hidup adalah perjuangan, memasuki rahasia langit dan bumi, serta mencipta dan mengukir kehidupan adalah tujuan akhirku. Dan kuyakin masih ada hari esok bersama Pelangi. Aku terus berusaha dan berdoa, Aku serahkan tubuh dan jiwaku sepenuhnya untuk-Mu Tuhan,