Baca-baca arsip lama di komputer saya ternyata asyik juga tuh. Kebetulan saya memang biasa mengoleksi banyak tulisan. Tentang apa saja dan dari siapa saja. Ada yang hasil browse sendiri dari internet, pun banyak tulisan yang dikirim via e-mail dari teman-teman ke mailing list . Semua itu akan saya pilah dan ditempatkan di folder tertentu yang sudah diberi tanda. Tujuannya, tentu sebagai bahan untuk menulis.
Nah, pas baca artikel tentang renungan yang entah siapa pembuatnya, saya jadi terinspirasi untuk membuat hal yang sama. Sebagian memang saya modifikasi dan kembangkan lagi, tapi jujur saja inspirasi tulisannya dari artikel tersebut. Jadi, makasih deh kepada “entah siapa” yang menjadi penulis pertama “renungan” tersebut.
Sobat muda muda muslim, barangkali inilah enaknya punya banyak teman dan bergaul dengan mereka (terutama yang baik-baik ya). Kalo ada yang pinter, insya Allah kita kebawa pinter juga. Banyak teman kita yang rajin, maka insya Allah kita pun akan kebawa rajin.
Oya, berikut ini saya tulis ulang dan sedikit dikasih tambahan beberapa kalimat atau mungkin paragraf (karena renungan itu berupa artikel singkat). Apa aja sih? Yuk, kita sama-sama renungkan dalam-dalam:
Sedekah vs belanja
Lucu ya, uang Rp 20.000-an kelihatan begitu besar bila dibawa ke kotak amal masjid, tapi begitu kecil bila kita bawa ke supermarket.
Jujur saja, kalimat ini begitu kena banget (khususnya kepada saya sendiri). Gimana nggak, kadang seringnya di antara kita ngisi kotak amal di masjid dengan uang recehan. Makanya, kalo pas kotak amal diedarin ke jamaah yang duduk berderet rapi di shaf-nya masing-masing suka terdengar bunyi nyaring tanda uang recehan jatuh menimpa benda keras (apalagi kalo kotaknya terbuat dari kaleng, lebih keras bunyi gemerincingnya).
Mungkin uang itu pecahan seratus, lima ratus, atau seribu rupiah yang logam. Tapi bukan berarti nggak boleh beramal dengan jumlah seperti itu. Jika ikhlas, insya Allah dapet pahala juga dong. Begitu pun sebaliknya, meski yang dimasukkin pecahan lima puluh ribu tapi nggak ikhlas kan sayang juga ya? Mendingan ngasih lima puluh ribu dan ikhlas kan? Hehehe.. itu sih, bagus banget atuh ya.
Terlepas dari nilai “ikhlas”, kita coba renungkan aja dikit ya, betapa kita masih merasa “pelit” untuk bersedekah. Padahal itu buat kita juga amalannya di sisi Allah. Tapi, kita harus merasa “royal” kalo jajan or belanja di mal. Bawa uang 50 ribu rupiah aja serasa masih kurang. Iya nggak? Kalo saya pernah ngerasa demikian. Astaghfirullah…
Semoga kita, bisa seperti Abdurrahman bin ‘Auf dan sahabat Rasul lainnya yang seperti nggak sayang sama harta. Mereka sedekahkan hartanya untuk urusan di jalan Allah dengan sangat banyak (menurut kita).
Ngaji vs nonton sepakbola
Lucu ya, 45 menit terasa terlalu lama untuk dengerin pengajian, tapi betapa pendeknya waktu itu untuk nonton pertandingan sepakbola
Yap, memang kadang lucu abis, kalo dengerin pengajian mah rata-rata dari kita baru lima menit berlalu aja mata kita udah merem-melek. Ngantuk! Apalagi kalo sampe harus 45 menit, wah jarang-jarang deh yang bisa bertahan dengan penuh semangat dan aktif dengerin dan bertanya kepada narasumber pengajian.
Tapi kalo kita nonton pertandingan sepakbola di televisi, waktu “setengah main” itu terasa pendek banget. Kita terhipnotis oleh aksi bintang-bintang lapangan hijau pujaan kita. Kita pun betah menikmatinya. Nggak terasa, 45 menit berlalu singkat banget. Lucu ya?
Doa vs ngobrol
Lucu ya, seringnya kita susah merangkai kata untuk dipanjatkan saat berdoa kepada Allah Swt., tapi betapa mudahnya cari bahan obrolan bila ketemu teman dan kata-kata dari mulut kita begitu lancar mengalir.
Hmm… abis sholat aja, kadang banyak di antara kita yang buru-buru pulang dari masjid atau mushola. Berdoa seperlunya dan mungkin doanya monoton alias yang diucapkan yang itu-itu aja (bosen nggak sih?).
Okelah, mungkin di antara kita ada keperluan sehingga begitu selesai sholat berjamaah, berdoa sebentar dan keluar dari masjid. Nggak apa-apa, karena sebetulnya berdoa sunnah hukumnya. Cuma, di sini kita sedikit aja merenung dan evaluasi diri: “Apa iya kalo kita berdoa meminta kepada Allah begitu singkatnya? Begitu buru-burunya? Dan nggak pandai merangkai kata dalam berdoa untuk ‘memikat' Allah Swt.?”
Emang iya sih, Allah Mahatahu apa yang diinginkan hambaNya dalam berdoa, tapi adabnya kan kita kudu sopan. Wong sama orang aja kita sopan dan menghargai. Iya nggak?
Tapi lucunya pas kita ngobrol bareng teman-teman, rangkaian kata dari mulut kita mengalir deras. Nggak ada beban dan lepas aja, gitu. Lain kali ye hawanya? Lucu juga tuh.
Sepakbola vs sholat
Lucu ya, betapa serunya perpanjangan waktu di pertandingan sepakbola favorit kita, tapi betapa bosannya kita bila imam sholat tarawih bulan Ramadhan kelamaan bacaannya.
Eh, jujur aja nih, terutama kalo nonton sepakbola di pertandingan final. Kalo hasilnya seri di waktu normal, maka diadakan perpanjangan waktu. Nah, banyak di antara kita yang betah menikmatinya. Apalagi kalo sampe nontonnya berjamaah di kafe. Dijamin seru abis.
Tapi, kalo bacaan ayat dari sang imam pas sholat tarawih panjang dikit aja, kita langsung pegel-pegel, dan nekat ngejatuhin ‘talak tiga' untuk nggak sholat di masjid itu lagi kalo imamnya orang tersebut. Walah?
Itu sebabnya, masjid or mushola yang melaksanakan sholat tarawih berjamaah dengan imam sholatnya yang biasa ngebut dengan kecepatan tinggi dalam membaca ayat, pasti membludak jamaahnya. Ckckck.. betapa banyak dari kita yang pengennya instan dan serba cepat dalam hal ibadah.
Baca al-Quran vs baca novel
Lucu ya, susah banget baca al-Quran 1 juz saja, tapi baca novel best sellers 100 halaman pun habis dilalap dalam sekejap dan kita merasa enjoy .
Hihihi.. iya juga ya? Waktu sekolah dulu saya bareng temen-temen pernah baca Wiro Sableng yang judulnya “Petaka Gundik Jelita” dan “Lima Iblis dari Nanking” antara 1 sampe 2 jam. Dan itu harus ngorbanin baca Fessenden & Fessenden yang nulis Kimia Organik. Padahal besoknya mo ujian kimia. Baca al-Quran? Hmm.. satu halaman kayaknya udah merasa “beruntung” deh. Ckckck… kenapa ya? Lucu sekaligus sedih kalo mengenang ini.
Rahasianya apa? Mungkin kalo bacaan al-Quran cepet bosen karena nggak ngerti artinya. Mugkin juga. Eh, tapi ada juga teman yang asyik banget baca Harry Potter edisi bahasa Inggris-nya sampe berjam-jam kok. Ya, kita sih khusnudzan saja, mungkin juga baca al-Quran pun doi sanggup berjam-jam dan berjuz-juz. Tapi umumnya, kita suka cepet bosen kan baca al-Quran lama-lama? Lebih sregep baca novel, baca komik, atau lainnya.
Eh, bukan berarti nggak boleh lho. Silakan aja baca novel. Ini juga sekadar renungan, bahwa ternyata kita lebih susah dan lebih banyak malasnya untuk baca al-Quran ketimbang baca bacaan lainnya. Tul nggak?
Konser musik vs shalat jumat
Lucu ya, orang-orang pada berebut untuk dapetin tempat di barisan paling depan ketika nonton konser musik, tapi berebut cari shaf paling belakang bila shalat jumat agar bisa cepat keluar.
Coba deh tengok acara konser musik di televisi, banyak orang rebutan untuk mendapatkan ‘shaf' terdepan biar bisa ngelihat dengan jelas bintang pujaannya, syukur-syukur kalo sampe bisa salaman.
Kalo pun harus bayar, banyak di antara kita yang rela ngeluarin duit untuk nebus tempat strategis di arena konser. Tapi pas sholat jumat mah , nyari tempat di shaf paling belakang biar cepet keluar, atau paling nggak nyari dinding or tiang untuk nyender. Lucu ya?
Dakwah vs gossip
Lucu ya, susahnya orang diajak untuk partisipasi dalam dakwah, tapi mudahnya orang berpartisipasi dalam menyebar gossip.
Ckckck… untuk ngajak dakwah susahnya setengah hidup. Alasannya macem-macem. Entah dengan alasan karena belum cukup ilmu, atau karena malu. Sehingga bikin lidah kelu. Tapi begitu ada yang ngomporin untuk ngegossip, lidahnya langsung fasih dan ikut nyebarin lagi. Wuih, aneh ya? Lucu ya?
Padahal, tentu saja, nilai perbuatannya lain banget. Kalo dakwah insya Allah dapet pahala, tapi ngegossip? Selain dibenci orang, juga dibenci Allah Swt. Amit-amit deh. Tapi, kenapa banyak di antara kita yang hobi ngegossip ketimbang semangat dakwah? Semoga menjadi renungan…
Media massa vs al-Quran
Lucu ya, kita begitu percaya banget pada apa yang disampaikan media massa, tapi kita sering mempertanyakan apa yang disampaikan al-Quran.
Jujur saja, media massa saat ini menjadi salah satu kekuatan untuk melakukan perubahan sosial, politik, ekonomi dsb. Banyak dari kita yang percaya begitu saja dengan apa yang disampaikan media massa. Kasus peledakkan bom di London awal Juli lalu, media massa hampir di seluruh dunia langsung “menuding” Islam dan kaum muslimin berada di balik serangan tersebut.
Eh, kita yang baca, banyak juga yang kemudian terprovokasi dan ikut-ikutan menjatuhkan vonis kepada Islam dan umatnya. Apa nggak bahaya banget tuh?
Tapi kita, kaum muslimin, ada juga yang masih mempertanyakan apa yang disampaikan oleh al-Quran. Isinya diutak-atik dan dipersepsi sendiri demi keuntungan dan tujuan tertentu. Kebalik-balik memang. Padahal, dalam surat al-Baqarah ayat 2 saja Allah Swt. sudah menjamin bahwa al-Quran itu “laaroiba fiihi” alias tidak ada keraguan di dalamnya. Nggak cuma itu, ayat tersebut melanjutkan (yang artinya): “petunjuk bagi mereka yang bertakwa”.
Yap, al-Quran itu pasti kebenarannya, dan sekaligus petunjuk bagi mereka yang bertakwa. Jadi, mengapa harus mempertanyakan lagi apa yang disampaikan Allah dalam al-Quran? Tapi dalam waktu bersamaan, kita lebih percaya kepada media massa (bahkan ada yang sampe nggak perlu ngecek kebenarannya), padahal nggak jarang isinya berupa ‘kabar burung' dan juga informasi yang sesat dan menyesatkan.
Surga pengen, beramal ogah
Lucu ya, pengen masuk surga, tapi ogah beramal. Hmm.. ini sih bukan hanya lucu, tapi juga aneh bin ajaib. Emangnya surga gratis? Nggak lha yauw. Kita-kita aja masih was-was, khawatir amalan baik selama ini nggak keterima karena mungkin nggak ikhlas. Lebih sedih lagi seharusnya jika kita berharap surga tapi nggak pernah (atau sedikit) beramal baik.
Sobat muda muslim, banyak di antara kita yang kepengen masuk surga, tapi diminta untuk sholat aja susahnya setengah mati. Banyak juga di antara kita yang pengen dapetin surgaNya, tapi diminta untuk taat dan patuh sama ajarannya aja ogah. Itu sih sama artinya ngarepin dapet uang pensiun tapi tanpa kerja selagi usia produktif. Lucu dan aneh banget kan?
Pengen masuk surga tapi tanpa beriman dan tanpa beramal sholeh, kira-kira mungkin nggak? Mimpi kali ye!
Ini sedikit renungan aja buat kita semua. Semoga kita mulai berbenah dalam hidup ini. Mumpung masih muda. Selagi mudah untuk melakukan berbagai amal kebaikan, jangan sia-siakan waktu kita. Kita bisa berbuat lebih banyak. Karena kita nggak pernah tahu kapan kita dijemput oleh Malaikat Ijroil untuk menghadap Allah Swt. dan mempertanggung-jawabkan perbuatan kita selama di dunia. Mumpung masih ada waktu, sebisa mungkin kita mengumpulkan banyak amal baik untuk bekal di akhirat kelak.
Rasul mulia saw. telah bersabda: “Bersegeralah menunaikan amal-amal kebajikan. Karena, saatnya nanti akan datang banyak fitnah, bagaikan penggalan malam yang gelap gulita. Betapa bakal terjadi seseorang yang di pagi hari dalam keadaan beriman, di sore harinya ia menjadi kafir. Dan seseorang yang di waktu sore masih beriman, keesokan harinya menjadi kafir. Ia menjual agamanya dengan komoditas dunia.” (HR Bukhari dan Muslim)
Semoga kita semua dimudahkan oleh Allah Ta'ala untuk melakukan amalan yang baik sesuai ajaran Islam. Ditanamkan dalam hati kita untuk gampang menerima kebenaran dan mengamalkannya. Semoga.
Showing posts with label Hikmah dalam kisah. Show all posts
Showing posts with label Hikmah dalam kisah. Show all posts
Wednesday, October 8, 2008
Thursday, March 20, 2008
GUNCANGKANLAH!! (belajar dari keledai)
Suatu hari keledai milik seorang petani jatuh ke dalam sumur. Hewan
itu menangis dengan memilukan selama berjam-jam, sementara si petani
memikirkan apa yang harus dilakukannya. Akhirnya, Ia memutuskan
bahwa hewan itu sudah tua dan sumur juga perlu ditimbun (ditutup
karena berbahaya). Karena tidak berguna untuk menolong si keledai.
ia mengajak tetangga-tetangganya untuk datang membantunya. Mereka
membawa sekop dan mulai menyekop tanah ke dalam sumur. Pada mulanya,
ketika si keledai menyadari apa yang sedang terjadi, ia menangis
penuh kengerian. Tetapi kemudian, semua orang takjub, karena si
keledai menjadi diam.
Setelah beberapa sekop tanah lagi dituangkan
ke dalam sumur, si petani melihat ke dalam sumur dan tercengang
karena apa yang dilihatnya. Meski punggungnya terus ditimpa oleh
bersekop-sekop tanah dan kotoran, si keledai melakukan sesuatu yang
menakjubkan. Ia mengguncang-guncangkan badannya agar tanah yang
menimpa punggungnya turun ke bawah, lalu menaiki t anah itu.
Sementara tetangga-tetangga si petani terus menuangkan tanah kotor
ke atas punggung hewan itu, si keledai terus juga menguncangkan
badannya dan melangkah naik. Segera saja, semua orang terpesona
ketika si keledai meloncati tepi sumur dan melarikan diri !
Kehidupan terus saja menuangkan tanah dan kotoran kepadamu, segala
macam tanah dan kotoran. Cara untuk keluar dari "sumur" (kesedihan,
masalah, beban berat dan sebagainya) adalah dengan mengguncangkan
segala tanah dan kotoran dari diri kita, pikiran kita, dan hati kita
dan segera melangkah naik dari "sumur" dengan menggunakan cara-cara
tersebut sebagai pijakan.
Setiap masalah kita merupakan satu batu pijakan untuk melangkah.
Kita dapat keluar dari "sumur" yang terdalam dengan terus berjuang,
jangan pernah menyerah! Guncangkanlah hal negatif yang menimpa dan
melangkahlah naik!
Ingatlah aturan sederhana tentang Kebahagiaan :
1. Bebaskan dirimu dari kebencian
2. Bebaskanlah pikiranmu dari kecemasan
3. Hiduplah sederhana
4. Berilah lebih banyak
5. Berharaplah lebih sedikit
6. Tersenyumlah
itu menangis dengan memilukan selama berjam-jam, sementara si petani
memikirkan apa yang harus dilakukannya. Akhirnya, Ia memutuskan
bahwa hewan itu sudah tua dan sumur juga perlu ditimbun (ditutup
karena berbahaya). Karena tidak berguna untuk menolong si keledai.
ia mengajak tetangga-tetangganya untuk datang membantunya. Mereka
membawa sekop dan mulai menyekop tanah ke dalam sumur. Pada mulanya,
ketika si keledai menyadari apa yang sedang terjadi, ia menangis
penuh kengerian. Tetapi kemudian, semua orang takjub, karena si
keledai menjadi diam.
Setelah beberapa sekop tanah lagi dituangkan
ke dalam sumur, si petani melihat ke dalam sumur dan tercengang
karena apa yang dilihatnya. Meski punggungnya terus ditimpa oleh
bersekop-sekop tanah dan kotoran, si keledai melakukan sesuatu yang
menakjubkan. Ia mengguncang-guncangkan badannya agar tanah yang
menimpa punggungnya turun ke bawah, lalu menaiki t anah itu.
Sementara tetangga-tetangga si petani terus menuangkan tanah kotor
ke atas punggung hewan itu, si keledai terus juga menguncangkan
badannya dan melangkah naik. Segera saja, semua orang terpesona
ketika si keledai meloncati tepi sumur dan melarikan diri !
Kehidupan terus saja menuangkan tanah dan kotoran kepadamu, segala
macam tanah dan kotoran. Cara untuk keluar dari "sumur" (kesedihan,
masalah, beban berat dan sebagainya) adalah dengan mengguncangkan
segala tanah dan kotoran dari diri kita, pikiran kita, dan hati kita
dan segera melangkah naik dari "sumur" dengan menggunakan cara-cara
tersebut sebagai pijakan.
Setiap masalah kita merupakan satu batu pijakan untuk melangkah.
Kita dapat keluar dari "sumur" yang terdalam dengan terus berjuang,
jangan pernah menyerah! Guncangkanlah hal negatif yang menimpa dan
melangkahlah naik!
Ingatlah aturan sederhana tentang Kebahagiaan :
1. Bebaskan dirimu dari kebencian
2. Bebaskanlah pikiranmu dari kecemasan
3. Hiduplah sederhana
4. Berilah lebih banyak
5. Berharaplah lebih sedikit
6. Tersenyumlah
Labels:
Hikmah dalam kisah
Wednesday, March 12, 2008
Dan Gerbong Kereta pun Bersaksi
“Kemarin kau tak mengaji. Hari ini tak mengaji, tak sembahyang pula kau… mau jadi manusia macam apa kau nak…” tegur seorang ibu kepada anak lelakinya yang baru berusia sekitar delapan tahun.
“Bukannya tak mau sembahyang mak. Di kereta banyak pembeli, kan sayang. Lagipula itu kan rejeki…” sanggah sang anak yang masih menggendong kotak rokok dan permen dagangannya.
“Hey … apa kau bilang??? Rejeki tu sudah ada yang mengaturnya. Bukan kau yang menentukan apa kau dapat rejeki atau tidak hari ini. Kalau kau tak berdoa pada-Nya, mungkin esok kau tak seberuntung hari ini…”.
Kata-kata itu, sungguh membuat ku terkesima. Sebuah cuplikan fragmen keimanan yang kutangkap hanya beberapa menit saat kuberdiri di Stasiun Kereta Api Tanah abang, Jakarta, Ada gemuruh yang menderu di dalam dada ini melihat pemandangan menakjubkan di depanku, terlebih mendengar dialog yang lumayan menggetarkan itu. Betapa tidak, seorang ibu yang tengah menggendong anaknya yang masih balita, ditemani putri sulungnya yang berusia tidak lebih dari dua belas tahun, meski tidak serapih muslimah-muslimah yang biasa kutemui di kampus-kampus atau perkantoran, tapi ia berusaha untuk menutupi bagian kepalanya dengan jilbab lusuh, bahu membahu bersama sang Ayah berdagang di emperan stasiun. Sementara anaknya yang lelaki, diberinya tanggungjawab berjualan rokok, tissue dan permen di gerbong KA Jabotabek.
Mari, ingin sekali kuajak Anda merenung tentang mereka sebelum bicara tentang diri kita sendiri. Setiap dini hari mata terjaga mendahului kokok ayam paling pagi untuk mengepak barang-barang yang akan digelar di stasiun kereta api yang berdebu, kadang sesak di pagi dan sore hari saat jam pergi dan pulang kantor, yang sudah pasti tak berpengatur udara. Tak ada kursi empuk selain alas koran yang tidak jarang membuat pinggang dan tulang bokong mereka pegal-pegal sekaligus panas, jika tak sering-sering bangun, kemudian duduk kembali sekedar melancarkan peredaran darah. Keringat yang keluar tak bisa diukur dari nine to five seperti kebanyakan kita. Sedangkan si bocah lelaki keluar masuk dan turun naik dari gerbong ke gerbong, dari pagi hingga sore menjelang dengan segala bentuk bahaya yang senantiasa menanti.
Tapi, tak sedikitpun mereka ragu bahwa Dia-lah yang mengatur semua rizki bagi manusia, tidak terkecuali mereka. Sehingga sedemikian marahnya si ibu setelah mendapat laporan dari si sulung bahwa anak lelakinya sudah dua hari tak mengaji, dan hari ini kedapatan tak sembahyang Dzuhur.
Kemudian mari tengok diri ini.!!!!
“Bukannya tak mau sembahyang mak. Di kereta banyak pembeli, kan sayang. Lagipula itu kan rejeki…” sanggah sang anak yang masih menggendong kotak rokok dan permen dagangannya.
“Hey … apa kau bilang??? Rejeki tu sudah ada yang mengaturnya. Bukan kau yang menentukan apa kau dapat rejeki atau tidak hari ini. Kalau kau tak berdoa pada-Nya, mungkin esok kau tak seberuntung hari ini…”.
Kata-kata itu, sungguh membuat ku terkesima. Sebuah cuplikan fragmen keimanan yang kutangkap hanya beberapa menit saat kuberdiri di Stasiun Kereta Api Tanah abang, Jakarta, Ada gemuruh yang menderu di dalam dada ini melihat pemandangan menakjubkan di depanku, terlebih mendengar dialog yang lumayan menggetarkan itu. Betapa tidak, seorang ibu yang tengah menggendong anaknya yang masih balita, ditemani putri sulungnya yang berusia tidak lebih dari dua belas tahun, meski tidak serapih muslimah-muslimah yang biasa kutemui di kampus-kampus atau perkantoran, tapi ia berusaha untuk menutupi bagian kepalanya dengan jilbab lusuh, bahu membahu bersama sang Ayah berdagang di emperan stasiun. Sementara anaknya yang lelaki, diberinya tanggungjawab berjualan rokok, tissue dan permen di gerbong KA Jabotabek.
Mari, ingin sekali kuajak Anda merenung tentang mereka sebelum bicara tentang diri kita sendiri. Setiap dini hari mata terjaga mendahului kokok ayam paling pagi untuk mengepak barang-barang yang akan digelar di stasiun kereta api yang berdebu, kadang sesak di pagi dan sore hari saat jam pergi dan pulang kantor, yang sudah pasti tak berpengatur udara. Tak ada kursi empuk selain alas koran yang tidak jarang membuat pinggang dan tulang bokong mereka pegal-pegal sekaligus panas, jika tak sering-sering bangun, kemudian duduk kembali sekedar melancarkan peredaran darah. Keringat yang keluar tak bisa diukur dari nine to five seperti kebanyakan kita. Sedangkan si bocah lelaki keluar masuk dan turun naik dari gerbong ke gerbong, dari pagi hingga sore menjelang dengan segala bentuk bahaya yang senantiasa menanti.
Tapi, tak sedikitpun mereka ragu bahwa Dia-lah yang mengatur semua rizki bagi manusia, tidak terkecuali mereka. Sehingga sedemikian marahnya si ibu setelah mendapat laporan dari si sulung bahwa anak lelakinya sudah dua hari tak mengaji, dan hari ini kedapatan tak sembahyang Dzuhur.
Kemudian mari tengok diri ini.!!!!
Labels:
Hikmah dalam kisah
Sunday, March 9, 2008
Berdamai Dengan Senja Jakarta
"Uugh macet lagi! mana udah sore lagih, rese ni Jakarta!!"
Keluh itulah yang terlontar dari hampir setiap penumpang Kopaja 71 jurusan Blok M - Bintaro sore itu, dengan bahasa yang berlainan tentu. Jalan sangat padat, bukan lagi merayap tapi tiarap sambil merayap.
Sore itu kepulanganku dari pameran buku di Senayan. Tanda-tanda macet sudah tampak, susahnya Kopaja kosong yang didapat dari mulai gerbang senayan. Entah mengapa saat itu waktu berjalan perlahan. Detik demi detik terkalahkan percepatan denyut nadi. aku sudah tidak tahan lagi. Satu-persatu umpatan terlontar, entah itu kepada supir Kopaja, kepada supir mobil-mobil disamping kopaja, kepada pengendara sepeda motor yang seenaknya nyalip-nyalip, dan umpatan-umpatan kepada yang lain.
Tiba-tiba kepala ini dipenuhi dengan gerutu yang tak tentu, pikiran ini jadi serba sensitif. Tak terasa keringat bercucuran memenuhi dahi. Suasana memang panas di dalam Kopaja, mana ada Kopaja ber-AC. Lalu hati ini berandai-andai, "Andai tadi naik ini. Andai tadi tidak ke arah sini. Andai punya kendaraan sendiri. Andai ada AC. Andai..." dan beribu andai yang mengucur sederas keringat. Semua serba menyebalkan. Uugh!
Senja Jakarta begitu menakutkan bagi para penumpang dan pengguna jalan. Dimana-mana macet, serasa si Komo selalu lewat. Ya, banyak sore aku lewati dengan kondisi seperti itu di Jakarta. Entah mungkin di kota lain. Jika memang sering, mengapa sampai sekarang masih belum terbiasa. Ya itulah salah satu keajaiban Jakarta. Kemacetan sudah menjadi kebiasaan yang dimaklumi. Entah siapa yang harus disalahkan.
Pada satu sore, masih dengan suasana macet. Disamping kanan atas kulihat Kopaja berpenumpang seorang akhwat. Ups, jaga pandangan!. Hey bukan itu maksudnya. Kulihat dia memegang Al-Qur'an, dan dengan tenangnya tilawah ditengah kebisingan dan panasnya suasana. Lalu ingatanku melayang pada kondisi yang sama dengan suasana hati yang berbeda yang aku alami. Ah, betapa malunya.
Terbayang sore-sore yang dilewati dengan penuh kesia-siaan di atas Kopaja. Entahlah, kali itu kulihat deretan mobil berbeda. Dengan atau tanpa gerutu kita, kemacetan ini tidak akan pernah berubah begitu saja. Tidak perlu dicari siapa yang salah, kita sendiri sebetulnya yang kurang sabar. Akhirnya aku temukan jalan untuk bisa berdamai dengan senja Jakarta. Untuk bisa melatih kesabaran jika sewaktu-waktu kita merasa sangat tidak sabaran.
"naik Kopaja yuk!"
Keluh itulah yang terlontar dari hampir setiap penumpang Kopaja 71 jurusan Blok M - Bintaro sore itu, dengan bahasa yang berlainan tentu. Jalan sangat padat, bukan lagi merayap tapi tiarap sambil merayap.
Sore itu kepulanganku dari pameran buku di Senayan. Tanda-tanda macet sudah tampak, susahnya Kopaja kosong yang didapat dari mulai gerbang senayan. Entah mengapa saat itu waktu berjalan perlahan. Detik demi detik terkalahkan percepatan denyut nadi. aku sudah tidak tahan lagi. Satu-persatu umpatan terlontar, entah itu kepada supir Kopaja, kepada supir mobil-mobil disamping kopaja, kepada pengendara sepeda motor yang seenaknya nyalip-nyalip, dan umpatan-umpatan kepada yang lain.
Tiba-tiba kepala ini dipenuhi dengan gerutu yang tak tentu, pikiran ini jadi serba sensitif. Tak terasa keringat bercucuran memenuhi dahi. Suasana memang panas di dalam Kopaja, mana ada Kopaja ber-AC. Lalu hati ini berandai-andai, "Andai tadi naik ini. Andai tadi tidak ke arah sini. Andai punya kendaraan sendiri. Andai ada AC. Andai..." dan beribu andai yang mengucur sederas keringat. Semua serba menyebalkan. Uugh!
Senja Jakarta begitu menakutkan bagi para penumpang dan pengguna jalan. Dimana-mana macet, serasa si Komo selalu lewat. Ya, banyak sore aku lewati dengan kondisi seperti itu di Jakarta. Entah mungkin di kota lain. Jika memang sering, mengapa sampai sekarang masih belum terbiasa. Ya itulah salah satu keajaiban Jakarta. Kemacetan sudah menjadi kebiasaan yang dimaklumi. Entah siapa yang harus disalahkan.
Pada satu sore, masih dengan suasana macet. Disamping kanan atas kulihat Kopaja berpenumpang seorang akhwat. Ups, jaga pandangan!. Hey bukan itu maksudnya. Kulihat dia memegang Al-Qur'an, dan dengan tenangnya tilawah ditengah kebisingan dan panasnya suasana. Lalu ingatanku melayang pada kondisi yang sama dengan suasana hati yang berbeda yang aku alami. Ah, betapa malunya.
Terbayang sore-sore yang dilewati dengan penuh kesia-siaan di atas Kopaja. Entahlah, kali itu kulihat deretan mobil berbeda. Dengan atau tanpa gerutu kita, kemacetan ini tidak akan pernah berubah begitu saja. Tidak perlu dicari siapa yang salah, kita sendiri sebetulnya yang kurang sabar. Akhirnya aku temukan jalan untuk bisa berdamai dengan senja Jakarta. Untuk bisa melatih kesabaran jika sewaktu-waktu kita merasa sangat tidak sabaran.
"naik Kopaja yuk!"
Labels:
Hikmah dalam kisah
Subscribe to:
Comments (Atom)
PERKENALAN dari ku:
- Ba'ul "kruchild" Ulum
- jakarta - kediri, alam raya, Indonesia
- Dalam impian masa remajaku Kucoba kuangkat kembali karung-karung bernama harapan, ku terjatuh, Kucoba untuk bangkit kembali, Aku terjatuh dan aku terjatuh...... Entah berapa kali aku terjatuh, aku tak dapat menghitungnya, Namun aku masih bertahan, karena hidup tidaklah untuk mengeluh dan mengaduh Hidup adalah perjuangan, memasuki rahasia langit dan bumi, serta mencipta dan mengukir kehidupan adalah tujuan akhirku. Dan kuyakin masih ada hari esok bersama Pelangi. Aku terus berusaha dan berdoa, Aku serahkan tubuh dan jiwaku sepenuhnya untuk-Mu Tuhan,
Kategori
- Cerita Hati (8)
- Hikmah dalam kisah (4)
- Just Kidding (4)
- kabar agak penting (9)
- Kritik - Nasihat (18)
- Refleksi kehidupan (19)