Showing posts with label Refleksi kehidupan. Show all posts
Showing posts with label Refleksi kehidupan. Show all posts

Thursday, June 17, 2010

Jawaban Atas Keraguanmu (Penting untuk dibaca oleh Muslimah dan Kaum Feminis yang belum paham tentang kedudukan Wanita dalam Ajaran Islam)

Tulisan ini saya repost dari sebuah blog yang beralamat di www.jakautama.com dengan judul "Tersingkap kelemahan wanita yg paling fatal!! (wanita muslim wajib tahu)"
Menurut saya artikel ini dudah cukup untuk menjawab keraguan kita masalah kedudukan wanita di dalam ajaran islam, masalah gender yang menjadi bahan "serangan" dari orang-orang yang alergi dengan syari'at islam dan mengesankan bahwa ajaran islam merendahkan wanita, mungkin salah satu diantara teman-teman muslim/muslimah pernah mengalami kebingungan untuk menjawab secara tepat mengenai masalah kedudukan wanita di dalam Islam, tidak bisa "mengcounter" pernyataan-pernyataan yang menyudutkan Islam terkait kedudukan wanita atau bahkan mungkin diantara teman-teman muslimah pernah merasa ajaran Islam kurang berpihak kepada wanita, tidak adil, terlalu mengekang??

Kaum feminis bilang susah jadi wanita, lihat saja peraturan dibawah ini:

1. Wanita auratnya lebih susah dijaga (lebih banyak) dibanding lelaki.
2. Wanita perlu meminta izin dari suaminya apabila mau keluar rumah tetapi tidak sebaliknya.
3. Wanita saksinya (apabila menjadi saksi) kurang berbanding lelaki.
4. Wanita menerima warisan lebih sedikit daripada lelaki.
5. Wanita perlu menghadapi kesusahan mengandung dan melahirkan anak.
6. Wanita wajib taat kepada suaminya, sementara suami tak perlu taat pada isterinya.
7. Talak terletak di tangan suami dan bukan isteri.
8. Wanita kurang dalam beribadat karena adanya masalah haid dan nifas yang tak Ada pada lelaki.

Itu sebabnya mereka tidak henti-hentinya berpromosi untuk "MEMERDEKAKAN WANITA".

Pernahkah Kita lihat sebaliknya (kenyataannya) ?
(jawaban dr ketujuh kesulitan wanita diatas)
  • 1. Benda yang Mahal harganya akan dijaga dan dibelai serta disimpan ditempat yang teraman dan terbaik. Sudah pasti intan permata tidak akan dibiar terserak bukan? Itulah bandingannya dengan seorang wanita.
  • 2.Wanita perlu taat kepada suami, tetapi tahukah lelaki wajib taat kepada ibunya 3 kali lebih utama daripada kepada bapaknya?
  • 3. Wanita menerima warisan lebih sedikit daripada lelaki, tetapi tahukah harta itu menjadi milik pribadinya dan tidak perlu diserahkan kepada suaminya, sementara apabila lelaki menerima warisan, Ia perlu/wajib juga menggunakan hartanya untuk isteri dan anak-anak.
  • 4. Wanita perlu bersusah payah mengandung dan melahirkan anak,tetapi tahukah bahwa setiap saat dia didoakan oleh segala makhluk, malaikat dan seluruh makhluk ALLAH di muka bumi ini, dan tahukah jika ia meninggal dunia karena melahirkan adalah syahid dan surga menantinya.
  • 5. Di akhirat kelak, seorang lelaki akan dipertanggung- jawabkan terhadap 4 wanita!, yaitu: Isterinya, ibunya, anak perempuannya dan saudara perempuannya. Artinya, bagi seorang wanita tanggung jawab terhadapnya ditanggung oleh 4 orang lelaki,yaitu : suaminya, ayahnya, anak lelakinya dan saudara lelakinya.
  • 6. Seorang wanita boleh memasuki pintu syurga melalui pintu surga yang mana saja yang disukainya, cukup dengan 4 syarat saja, yaitu: shalat 5 waktu, puasa di bulan Ramadhan, taat kepada suaminya dan menjaga kehormatannya.
  • 7 dan 8. Seorang lelaki wajib berjihad fisabilillah, sementara bagi wanita jika taat akan suaminya, serta menunaikan tanggung-jawabnya kepada ALLAH, maka ia akan turut menerima pahala setara seperti pahala orang pergi berjihad fisabilillah tanpa perlu mengangkat senjata.

Masya ALLAH ! Demikian sayangnya ALLAH pada wanita Ingat firman Nya, bahwa mereka tidak akan berhenti melakukan segala upaya, sampai Kita ikut / tunduk kepada cara-cara / peraturan Buatan mereka. (emansipasi Ala western)

Yakinlah, bahwa sebagai dzat yang Maha Pencipta, yang menciptakan Kita, maka sudah pasti Ia yang Maha Tahu akan manusia, sehingga segala Hukumnya / peraturannya, adalah YANG TERBAIK bagi manusia dibandingkan dengan segala peraturan/hukum buatan manusia. Jagalah isterimu karena dia perhiasan, pakaian dan ladangmu, sebagaimana Rasulullah pernah mengajarkan agar Kita (kaum lelaki) Berbuat baik selalu (gently) terhadap isterimu. Adalah sabda Rasulullah bahwa ketika kita memiliki dua atau lebih anak perempuan, mampu menjaga dan mengantarkannya menjadi muslimah Yang baik, maka surga adalah jaminannya. (untuk anak laki2 berlaku kaidah yang berbeda).

Berbahagialah wahai para muslimah. Jangan risau hanya untuk apresiasi absurd dan semu di dunia ini. Tunaikan dan tegakkan kewajiban agamamu, niscaya surga menantimu.

Wanita selalu lupa betapa berharganya dirinya

Dari berbagai sumber

Saturday, October 17, 2009

Situs Jejaring Sosial: antara manfaat dan mudharat

Dunia digital berkembang dengan pesat, komunikasi jarak jauh bukan lagi hambatan. Munculnya banyak situs dan aplikasi social networking/jejaring sosial semakin memanjakan penggunanya. Situs jejaring sosial semisal Facebook, Twitter, Friendster, Plurk, dan lain sebagainya seakan bertransisi telah masuk menjadi bagian kebutuhan hidup sekunder penggunanya. Hal ini juga berdampak terhadap berubahnya gaya hidup penggunanya, perubahan tersebut tidak hanya secara individual tetapi juga secara merubah kehiupan sosial para penggunanya. Banyak sisi positifnya seperti memudahkan pekerjaan, melanggengkan silaturrahim, mengurangi stress dengan berbagi, dan lain-lain. Tapi sudah menjadi hukum alam semua hal diciptakan berpasangan jika ada sisi positif dari pengunaan teknologi informasi situs jejaring sosial maka pastinya ada sisi negatif dari situs jejaring sosial, setidaknya yang saya catat berikut ini:

1. Dunia Virtual/Maya mengalihkan pecandunya dari Dunia Nyata.


Ada pendapat yang mengatakan bahwa “teknologi nformasi mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat”. Seseorang yang sudah terlanjur nyaman dengan kehidupan sosialnya di dunia maya/virtual cenderung akan melupakan kehidupan sosialnya di dunia nyata. Dia akan sangat peduli dengan status teman-temannya didunia maya, tetapi kurang peduli dengan “status” tetangga kamarnya (untuk anak kos, red). Teman-temannya di dunia maya yang pada kenyataannya jarak tempat tinggalnya jauh seakan sudah cukup baginya, tetangga kamarnya tidak dipedulikannya seakan jaraknya jauh padahal hanya dibatasi tembok kamar, bahkan mungkin dianggapnya tidak ada. Perhatiannya lebih banyak tertuju pada teman-temannya didunia maya daripada di dunia nyata. Kehidupannya di dunia nyata/ lingkungan tempat tinggalnya akan bermasalah karena jarang bersosialsasi dengan penghuni yang lain. Lebih jauh lagi dia akan terkucil di lingkungannya di dunia nyata. Buruknya hubungan tersebut berpotensi akan merepotkan dirinya sendiri pada saat dia memburuhkan bantuan. Menurut pelajaran PPKN/PMP yang pernah saya pelajari waktu belajar di bangku Madrasah Ibtidaiyah (SD) manusia itu adalah makhluk sosial yang pasti membutuhkan bantuan dari orang lain. Coba dipikir, kalau tiba-tiba dia sakit apakah teman-temannya di dunia maya dapat memberikan bantuan padahal secara fisik jaraknya jauh, tentunya yang bisa memberi bantuan adalah orang-orang di lingkungannya. Teman-temannya di dunia maya paling mungkin hanya memberikan saran, tidak bisa memberikan bantuan secara fisik. Jadi, mari kita seimbangkan kehidupan sosial kita.


2. Bahaya riya’/sum’ah/ujub dalam kegiatan “update status”


Situs-situs jejaring sosial meyediakan fasilitas bagi penggunanya untuk mengupdate status mereka untuk diketahui oleh pengguna yang lain. Pada umumnya kegiatan update status ini digunakan para anggota situs jejaring sosial untuk memberitahukan kegiatannya, menceritakan perasaannya, dan lain sebagainya. Lalu apa hubungannya antara update dengan Riya’,Sum’ah dan Ujub? Riya’ adalah memperlihatkan amal shalih dengan tujuan agar orang lain kagum kepadanya atau bahasa mudahnya pamer ibadah, motivasi ibadahnya bukan karena Allah. Sum’ah adalah menceritakan tentang amal shalihnya kepada orang lain karena ingi dipuji. Sedangkan Ujub adalah perasaan bangga/kagum terhadap diri sendiri.

Kegiatan update status berpoensi tercampur unsur riya’/sum’ah/ujub jika para anggota situs jejaring sosial mengupdate status dengan menceritakan amal shalihnya untuk diperhatikan dan dikomentari oleh anggota yang lain. Misalnya seperti ini: “Hari ini berat banget dech.. puasa sunah banyak tantangannya panas, banyak tugas, ada temen traktiran ga bisa ikut.. tapi alhamdulilah bisa sukses melewatinya.” Atau begini: “ Alhamdulillah dengan rizkiMu hari ini hamba bisa berbagi dengan kaum dhu’afa “ dan lain sebagainya..

Amal shalih yang terbaik adalah yang tidak diketahui orang lain, bukankah sayang jika amal shalih yan telah kita kerjakan dengan bersungguh-sungguuh pada akhirnya tidak ada nilainya di hadapan Allah hanya karena setelah kita kerjakan amal tersebut kita terjebak pada penyakit sum’ah dan riya’. Update status seperti contoh diatas berpotensi tercampur unsur Riya’ dan Sum’ah . Dalam masalah ini ada pendapat lain yang menyatakan bahwa diperbolehkan menceritakan amal shalih untuk memotivasi orang lain agar ikut mengerjakan amal shalih. Perlu diperhatikan juga dalam dunia jejaring sosial fasilitas update status difungsikan untuk diperhatikan dan dikomentari oleh anggota yang lain. Komentar-komentar berupa pujian dan rasa kagum Komentar-komentar terhadap contoh status seperti diatas lebih jauh dapat menyebabkan terjangkitnya penyakit Ujub yang menghinggapi hati yaitu bangga terhadap diri sendiri.


3. Bisa menimbulkan efek kecanduan dan melemahkan mental


Masalah ini sudah banyak dibahas melalui peneitian-penelitian bahwa situs jejaring sosial dapat menimbulkan kebutuhan yang berlebihan untuk diperhatikan oleh orang lain. Orang yang sudah terjangkit sindrom ini akan merasa tidak nyaman jika dia tidak dapat mengupdate statusnya atau tidak dapat melihat status orang lain. Dia akan merasa kesepian jika update statusnya tidak ada yang mengomentari. Akhirnya pekerjaannya atau kegiatan belajarnya terbengkalai. Bahkan bisa menyebakan IQ turun

Kebiasaan curhat melalui situs jejaring sosial dapat melemahkan mental seseorang, dalam mengambil keputusan atau dalam menghadapi permasalahan dia akan merasa tidak percaya diri tanpa saran orang lain. Dia merasa tidak mampu menyelesaikan masalah pribadinya sendiri tanpa tanpa bantuan orang lain, selain itu kebiasaan curhat di situs jejaring sosial akan menimbulkan sifat cengeng dan manja.

4. Membuka peluang selingkuh


Sinyal-sinyal tanda potensi perselingkuhan dimulai jika anggota jejaring sosial ini lebih merasa nyaman untuk sharing dan curhat mengenai masalahnya dengan orang lain (lawan jenis) daripada dengan pasangannya. Dari perasaan nyaman itulah bibit-bibit perselingkuhan mulai tumbuh. Untuk masalah curhat ini perempuan lebih besar potensinya untuk selingkuh karena pada dasarnya perempuan itu lemah terhadap pujian dan perhatian.

Demikian beberapa pandangan saya mengenai situs jejaring sosial yang semakin populer akhir-akhir ini. Situs jejaring sosial bisa diibaratkan sebuah senjata, pengguna senjata itulah yang menentukan apakah senjata itu akan digunakan dengan bermanfaat atau tidak.

Friday, October 16, 2009

Perhatian Yang Menjerumuskan

Tak terasa sudah lama saya tidak mengupdate blog ini, banyak faktor penyebabnya , faktor yang utama adalah masalah adaptasi transisi dari dunia kampus ke dunia kerja yang tentunya butuh penyesuaian terutama dari segi manajemen waktu.

Oke, cukup segitu curhatnya, back to topic...

Contoh kasus:

Beberapa pekan ini seorang cewek sebutlah namanya bunga (seperti berita kriminal aja neh..) wajahnya berseri-seri setiap pagi bangun tidur, dibacanya SMS dari salah seorang teman cowoknya (sebutlah kumbang) yang isinya seperti ini “ di pagi yang dingin ini tubuh terasa beku, mari kita ambil wudhu dan menghadap Allah maka kehangatan akan datang” si bunga ini merasa gembira karena diperhatikan, Apalagi atas nama keimanan dan ketakwaan. Memang beberapa waktu terakhir bunga setiap pagi mendapat SMS ataupun Telepon yang mengingatkannya untuk ibadah. Iapun semakin semangat beribadah..

Lalu apa yang salah? Kasus itu dapat dilihat dari 2 sisi

1. Sisi pemberi perhatian , apa yang salah? SmS tersebut hanya tausyiah belaka bagus dan benar secara tekstualnya. Tapi bisa jadi buruk secara muatan dan motivasi. Jika si kumbang memang ingin memberi nasihat, mengapa hanya kepada bunga? Bukankah temannya yang lain juga berhak mendapat nasihat? Atau lebih amannya mengapa SMS itu tidak dikirimkan kepada teman yang sama-sama cowok saja? Jadi, motivasi si kumbang untuk memberi nasihat adalah sangat meragukan, ada motivasi lain dibaliknya. SMS/Telepon tersebut membuka pintu Riya’ dan Ujub, kenapa? Bisa jadi motivasi si kumbang adalah ingin menunjukkan kepada bunga kalo si kumbang itu rajin ibadahnya, pagi-pagi sudah bangun untuk sholat shubuh. Bukankah ini berbahaya, nilai ibadah bisa tidak berarti karena tercampur riya’.

2. Sisi Penerima perhatian, apa yang salah dengan semakin semangat beribadah? Lagi-lagi disini harus dilihat motivasinya. Apakah dia semakin giat beribadah benar-benar karena Allah (lillah). Apakah sama sekali tidak terbersit dihatinya untuk menunjukkan kepada si kumbang bahwa dia juga rajin beribadah. Dalam kasus seperti ini kadang si bunga akan menjawab SMS tersebut dengan menyebutkan ibadah yang telah di lakukannya, dan inilah yang diharapkan setan pembisik nafsu. Menceritakan amal ibadah dengan motivasi salah akan menghancurkan nilai ibadah itu. Atau begini, si bunga semakin rajin bangun pagi karena takut jika tidak bangun, dia malu jika tidak menjawab SMS/Telepon dari si kumbang dan semakin malu jika ditanya ternyata dia belum sholat shubuh. Sholatnya yang tepat waktu lebih ditujukan agar dia tidak malu jika ditanya orang lain.

Barangkali contoh kasus tersebut adalah sebagian kecil perilaku pemuda-pemudi muslim yang salah arah. Yang perlu dicermati bahwa jika perilaku tersebut terjangkit pada aktivis dakwah muda islam, tentunya sangat disayangkan jika mereka tidak dapat menata hati dengan ilmu yang mereka miliki.

Riya’ adalah penyakit hati yang halus namun berbahaya, saya sendiri juga ragu apakah tulisan-tulisan di blog ini benar-benar bersih tidak tercampur dengan unsur riya’. Biarlah Allah yang menilainya..

Cukup sekian artikel “come back” saya, Insya Allah pembahasan tentang riya’ akan saya lanjutkan di artikel selanutnya.

Saturday, November 29, 2008

Amalan Yang Terbalik

Kadang-kadang kita dapati amalan kita adalah terbalik atau bertentangan dari apa yang patut dilakukan dan dituntut oleh Islam. Mungkin kita tidak sadar atau mengikuti budaya hidup orang lain.

Perhatikan apa yang dipaparkan dibawah sebagai contoh amalan yang terbalik:

Amalan kenduri arwah/ slamatan beberapa malam yang dilakukan oleh keluarga si mati selepas sesuatu kematian (malam pertama, kedua, ketiga, ketujuh dan seterusnya) adalah terbalik dari apa yang dianjurkan oleh Rasulullah dimana Rasulullah telah menganjurkan tetangga memasak makanan untuk keluarga si mati untuk meringankan kesusahan dan kesedihan mereka. Keluarga tersebut telah ditimpa kesedihan, terpaksa pula menyedia makanan dan belanja untuk mereka yang datang membaca tahlil. Tidakkah mereka yang hadir makan kenduri tersebut khuatir kalau-kalau mereka termakan harta anak yatim yang ditinggalkan oleh si mati atau harta peninggalan si mati yang belum dibagikan kepada yang berhak menurut Islam?

Kalau hadir ke acara walimatul urs (pesta perkawinan) biasanya ada "salam tempel/salam berisi" (hadiah uang yang diberi ketika bersalaman). Kalau tidak ada duit yang dikepit dalam tangan, maka ia segan untuk pergi menghadiri acara walimah. Tetapi kalau ia menziarahi orang mati, ia tidak segan salam tak berisi. Sepatutnya kalau menziarah keluarga si matilah kita patut memberi sedekah. Kalau ke pesta perkawinan/respsi, tak memberi pun tak apa karena tuan rumah yang mengundang untuk beri memberi restu kepada mempelai & makan bukan untuk menambah pendapatannya. (seharusnya seperti itu)

Ketika menghadiri undangan kita berpakaian bagus rapih dan indah tetapi bila menghadap Allah baik di rumah maupun di masjid, pakaian yang pas-pasan saja bahkan ada yang tak berbaju. Tidakkah ini suatu perbuatan yang terbalik.

Kalau menjadi tamu di rumah orang dan diberi jamuan, kita merasa segan untuk makan sampai habis apa yang dihidangkan karena rasa segan dan malu, padahal yang benar adalah makan apa yang dihidangkan dengan begitu tuan rumah merasa gembira dan tidak mubazir.

Kebanyakan orang tua akan sangat khawatir kalau anak-anak mereka gagal dalam ujian. Maka diantarlah ke tempat-tempat les/kursus walaupun banyak biayanya. Tapi kalau anak tidak bisa baca Quran atau sholat, mereka tidak khawatir bahkan tak mau mengantar ke tempat kursus baca Quran atau kelas khusus mempelajari Islam. Kalau guru kursus sanggup dibayar sebulan Rp 300,000 untuk satu pelajaran dan 8 kali kehadiran saja tapi kepada Ustadz Qur'an/ belajar mengaji hanya Rp 25,000 padahal sebulan 20 kali kehadiran untuk belajar. Bukankah terbalik amalan kita? Kita sepatutnya lebih malu jika anak tidak dapat baca Al Quran atau Sholat dari pada tidak lulus ujian.

Kalau bekerja mengejar rezeki Allah tak peduli siang malam, pagi petang, mesti pergi kerja. Hujan atau banjir tetap masuk karena tuntutan mematuhi peraturan kerja. Tapi ke rumah Allah (masjid) tidak hujan, tidak panas, tidak banjir pun tetap tidak datang ke masjid. Sungguh tidak tahu malu manusia begini, rezeki Allah diminta tapi untuk mampir ke rumah Nya malas.
(ASTAGHFIRULLAH...)

Seorang isteri kalau mau keluar rumah dengan suami atau tidak, bukan main dia berhiasnya. Tetapi kalau duduk di rumah, masyaAllah. Sedangkan yang dituntut seorang isteri itu berhias untuk suaminya, bukan berhias untuk orang lain. Perbuatan amalan yang terbalik ini membuatkan rumahtangga kurang bahagia.

Cukup dengan contoh-contoh di atas. Marilah kita berlapang dada menerima hakikat kebenaran. Marilah kita beralih kepada kebenaraan agar hidup kita menurut landasan dan ajaran Islam yang sebenar bukan yang digubah mengikuti selera kita.
Sabda Rasullullah SAW: "Sampaikanlah pesan-ku walaupun hanya satu ayat." (Riwayat Bukhari)

Wednesday, October 15, 2008

Maka Nikmatilah, Karena Ini Pun Akan Berlalu

Saat di depanmu terhidang nasi sayur tahu tempe, mengapa mesti sibuk berandai-andai dapat makan ikan, daging atau ayam ala resto? Padahal kalau saja kau nikmati apa yang ada tanpa berkesah, pastilah rasanya tak jauh beda. Karena enak atau tidaknya makanan lebih tergantung kepada rasa lapar dan mau tidaknya kita menerima apa yang ada. Maka nikmatilah, karena jika engkau terus mengharap makanan yang lebih enak, makanan yang ada di depanmu akan basi, padahal belum tentu besok engkau akan mendapatkan yang lebih baik daripada hari ini.

Saat engkau menemui udara pagi ini cerah, langit hari ini biru indah, mengapa sibuk mencemaskan hujan yang tak kunjung datang? Padahal kalau saja kau nikmati adanya tanpa kesah, pastilah kau dapat mengerjakan begitu banyak kegiatan dengan penuh kegembiraan. Maka nikmatilah, jangan malah resah memikirkan hujan yang tak kunjung tumpah. Karena jika kau tak menikmatinya, maka saat tiba masanya hujan menggenangi tanahmu, kau pun kan kembali resah memikirkan kapan hujan berhenti.

Percayalah, semua ini akan berlalu, maka mengapa harus memikirkan sesuatu yang tak ada, namun suatu saat pasti akan hadir jua? Sedang hal itu hanya akan membuat kita kehilangan keindahan hari ini karena mencemaskan sesuatu yang belum pasti.

Saat engkau memiliki sebuah pekerjaan dan mendapatkan penghasilan, meski tak sesuai dengan yang kau inginkan, mengapa mesti kesal dan membayangkan pekerjaan ideal yang jauh dari jangkauan? Padahal kalau saja kau nikmati apa yang kau miliki, tentu akan lebih mudah menjalani. Maka nikmatilah, karena bisa jadi saat kau dapatkan apa yang kau inginkan, ternyata tak seindah yang kau bayangkan. Maka nikmatilah, karena bisa jadi saat sudah kau lepaskan, kau akan menyesal, ternyata begitu banyak kebaikan yang tidak kau lihat sebelumnya. Ternyata begitu banyak keindahan yang terlewat tak kau nikmati.

Maka nikmatilah, dan jangan habiskan waktumu dengan mengeluh dan menginginkan yang tidak ada. Maka nikmatilah, karena suatu saat, semua ini pun akan berlalu. Maka nikmatilah, jangan sampai kau kehilangan nikmatnya dan hanya mendapatkan getirnya saja. Maka nikmatilah dengan bersyukur dan memanfaatkan apa yang kau miliki dengan lebih baik lagi agar besok menjadi sesuatu yang berguna. Maka nikmatilah karena ia akan menjadi milikmu apa adanya dan hanya saat ini saja. Sedang besok bisa jadi semua telah berganti.

Jika hari ini engkau menderita, maka nikmatilah, karena ini pun akan berlalu, jangan biarkan dia pergi, kemudian ketika kau harus lebih menderita suatu saat nanti, engkau tidak sanggup menahannya. Maka nikmatilah rasa sedihmu, dengan mengenang kesedihan yang lebih dalam yang pernah kau alami. Dengan membayangkan kesedihan yang lebih memar pada hari akhir nanti jika kau tak dapat melewati kesedihan kali ini.

Dengan menemukan penghapus dosa pada musibah yang kau alami kini. Maka nikmatilah rasa galaumu, dengan betafakkur lebih banyak atas permasalahan yang kau hadapi. Dengan memikirkan kedewasaan yang kan kau gapai atas resah dan galau itu. Dengan kematangan yang akan kau miliki setelah berhasil melewati semua ini. Maka nikmatilah rasa marahmu, dengan kemampuan mengendalikan diri. Dengan memikirkan penggugur dosa yang kan kau dapatkan. Dengan mendapatkan kemenangan atas diri pribadi yang tak semua orang dapat lakukan.

Maka nikmatilah, dengan berpikir positif atas apa pun yang kau jalani, atas apapun yang kau hadapai, atas apapun yang kau terima, karena dengan begitu engkau akan bahagia. Maka nikmatilah, karena ini pun akan berlalu jua. Maka nikmatilah, karena rasa puas dan syukur atas apa yang telah kita raih akan menghadirkan ketenteraman dan kebahagiaan. Sedang ketidakpuasan hanya akan melahirkan penderitaan. Maka nikmatilah, karena ini pun akan berlalu. Maka nikmatilah, agar engkau tidak kehilangan hikmah dan keindahannya, saat segalanya telah tiada. Maka nikmatilah, agar tak hanya derita yang tersisa saat semua telah berakhir jua.



Wednesday, October 8, 2008

Untuk Kita Renungkan

Baca-baca arsip lama di komputer saya ternyata asyik juga tuh. Kebetulan saya memang biasa mengoleksi banyak tulisan. Tentang apa saja dan dari siapa saja. Ada yang hasil browse sendiri dari internet, pun banyak tulisan yang dikirim via e-mail dari teman-teman ke mailing list . Semua itu akan saya pilah dan ditempatkan di folder tertentu yang sudah diberi tanda. Tujuannya, tentu sebagai bahan untuk menulis.

Nah, pas baca artikel tentang renungan yang entah siapa pembuatnya, saya jadi terinspirasi untuk membuat hal yang sama. Sebagian memang saya modifikasi dan kembangkan lagi, tapi jujur saja inspirasi tulisannya dari artikel tersebut. Jadi, makasih deh kepada “entah siapa” yang menjadi penulis pertama “renungan” tersebut.

Sobat muda muda muslim, barangkali inilah enaknya punya banyak teman dan bergaul dengan mereka (terutama yang baik-baik ya). Kalo ada yang pinter, insya Allah kita kebawa pinter juga. Banyak teman kita yang rajin, maka insya Allah kita pun akan kebawa rajin.

Oya, berikut ini saya tulis ulang dan sedikit dikasih tambahan beberapa kalimat atau mungkin paragraf (karena renungan itu berupa artikel singkat). Apa aja sih? Yuk, kita sama-sama renungkan dalam-dalam:

Sedekah vs belanja

Lucu ya, uang Rp 20.000-an kelihatan begitu besar bila dibawa ke kotak amal masjid, tapi begitu kecil bila kita bawa ke supermarket.

Jujur saja, kalimat ini begitu kena banget (khususnya kepada saya sendiri). Gimana nggak, kadang seringnya di antara kita ngisi kotak amal di masjid dengan uang recehan. Makanya, kalo pas kotak amal diedarin ke jamaah yang duduk berderet rapi di shaf-nya masing-masing suka terdengar bunyi nyaring tanda uang recehan jatuh menimpa benda keras (apalagi kalo kotaknya terbuat dari kaleng, lebih keras bunyi gemerincingnya).

Mungkin uang itu pecahan seratus, lima ratus, atau seribu rupiah yang logam. Tapi bukan berarti nggak boleh beramal dengan jumlah seperti itu. Jika ikhlas, insya Allah dapet pahala juga dong. Begitu pun sebaliknya, meski yang dimasukkin pecahan lima puluh ribu tapi nggak ikhlas kan sayang juga ya? Mendingan ngasih lima puluh ribu dan ikhlas kan? Hehehe.. itu sih, bagus banget atuh ya.

Terlepas dari nilai “ikhlas”, kita coba renungkan aja dikit ya, betapa kita masih merasa “pelit” untuk bersedekah. Padahal itu buat kita juga amalannya di sisi Allah. Tapi, kita harus merasa “royal” kalo jajan or belanja di mal. Bawa uang 50 ribu rupiah aja serasa masih kurang. Iya nggak? Kalo saya pernah ngerasa demikian. Astaghfirullah…

Semoga kita, bisa seperti Abdurrahman bin ‘Auf dan sahabat Rasul lainnya yang seperti nggak sayang sama harta. Mereka sedekahkan hartanya untuk urusan di jalan Allah dengan sangat banyak (menurut kita).

Ngaji vs nonton sepakbola

Lucu ya, 45 menit terasa terlalu lama untuk dengerin pengajian, tapi betapa pendeknya waktu itu untuk nonton pertandingan sepakbola

Yap, memang kadang lucu abis, kalo dengerin pengajian mah rata-rata dari kita baru lima menit berlalu aja mata kita udah merem-melek. Ngantuk! Apalagi kalo sampe harus 45 menit, wah jarang-jarang deh yang bisa bertahan dengan penuh semangat dan aktif dengerin dan bertanya kepada narasumber pengajian.

Tapi kalo kita nonton pertandingan sepakbola di televisi, waktu “setengah main” itu terasa pendek banget. Kita terhipnotis oleh aksi bintang-bintang lapangan hijau pujaan kita. Kita pun betah menikmatinya. Nggak terasa, 45 menit berlalu singkat banget. Lucu ya?

Doa vs ngobrol

Lucu ya, seringnya kita susah merangkai kata untuk dipanjatkan saat berdoa kepada Allah Swt., tapi betapa mudahnya cari bahan obrolan bila ketemu teman dan kata-kata dari mulut kita begitu lancar mengalir.

Hmm… abis sholat aja, kadang banyak di antara kita yang buru-buru pulang dari masjid atau mushola. Berdoa seperlunya dan mungkin doanya monoton alias yang diucapkan yang itu-itu aja (bosen nggak sih?).

Okelah, mungkin di antara kita ada keperluan sehingga begitu selesai sholat berjamaah, berdoa sebentar dan keluar dari masjid. Nggak apa-apa, karena sebetulnya berdoa sunnah hukumnya. Cuma, di sini kita sedikit aja merenung dan evaluasi diri: “Apa iya kalo kita berdoa meminta kepada Allah begitu singkatnya? Begitu buru-burunya? Dan nggak pandai merangkai kata dalam berdoa untuk ‘memikat' Allah Swt.?”

Emang iya sih, Allah Mahatahu apa yang diinginkan hambaNya dalam berdoa, tapi adabnya kan kita kudu sopan. Wong sama orang aja kita sopan dan menghargai. Iya nggak?

Tapi lucunya pas kita ngobrol bareng teman-teman, rangkaian kata dari mulut kita mengalir deras. Nggak ada beban dan lepas aja, gitu. Lain kali ye hawanya? Lucu juga tuh.

Sepakbola vs sholat

Lucu ya, betapa serunya perpanjangan waktu di pertandingan sepakbola favorit kita, tapi betapa bosannya kita bila imam sholat tarawih bulan Ramadhan kelamaan bacaannya.

Eh, jujur aja nih, terutama kalo nonton sepakbola di pertandingan final. Kalo hasilnya seri di waktu normal, maka diadakan perpanjangan waktu. Nah, banyak di antara kita yang betah menikmatinya. Apalagi kalo sampe nontonnya berjamaah di kafe. Dijamin seru abis.

Tapi, kalo bacaan ayat dari sang imam pas sholat tarawih panjang dikit aja, kita langsung pegel-pegel, dan nekat ngejatuhin ‘talak tiga' untuk nggak sholat di masjid itu lagi kalo imamnya orang tersebut. Walah?

Itu sebabnya, masjid or mushola yang melaksanakan sholat tarawih berjamaah dengan imam sholatnya yang biasa ngebut dengan kecepatan tinggi dalam membaca ayat, pasti membludak jamaahnya. Ckckck.. betapa banyak dari kita yang pengennya instan dan serba cepat dalam hal ibadah.

Baca al-Quran vs baca novel

Lucu ya, susah banget baca al-Quran 1 juz saja, tapi baca novel best sellers 100 halaman pun habis dilalap dalam sekejap dan kita merasa enjoy .

Hihihi.. iya juga ya? Waktu sekolah dulu saya bareng temen-temen pernah baca Wiro Sableng yang judulnya “Petaka Gundik Jelita” dan “Lima Iblis dari Nanking” antara 1 sampe 2 jam. Dan itu harus ngorbanin baca Fessenden & Fessenden yang nulis Kimia Organik. Padahal besoknya mo ujian kimia. Baca al-Quran? Hmm.. satu halaman kayaknya udah merasa “beruntung” deh. Ckckck… kenapa ya? Lucu sekaligus sedih kalo mengenang ini.

Rahasianya apa? Mungkin kalo bacaan al-Quran cepet bosen karena nggak ngerti artinya. Mugkin juga. Eh, tapi ada juga teman yang asyik banget baca Harry Potter edisi bahasa Inggris-nya sampe berjam-jam kok. Ya, kita sih khusnudzan saja, mungkin juga baca al-Quran pun doi sanggup berjam-jam dan berjuz-juz. Tapi umumnya, kita suka cepet bosen kan baca al-Quran lama-lama? Lebih sregep baca novel, baca komik, atau lainnya.

Eh, bukan berarti nggak boleh lho. Silakan aja baca novel. Ini juga sekadar renungan, bahwa ternyata kita lebih susah dan lebih banyak malasnya untuk baca al-Quran ketimbang baca bacaan lainnya. Tul nggak?

Konser musik vs shalat jumat

Lucu ya, orang-orang pada berebut untuk dapetin tempat di barisan paling depan ketika nonton konser musik, tapi berebut cari shaf paling belakang bila shalat jumat agar bisa cepat keluar.

Coba deh tengok acara konser musik di televisi, banyak orang rebutan untuk mendapatkan ‘shaf' terdepan biar bisa ngelihat dengan jelas bintang pujaannya, syukur-syukur kalo sampe bisa salaman.

Kalo pun harus bayar, banyak di antara kita yang rela ngeluarin duit untuk nebus tempat strategis di arena konser. Tapi pas sholat jumat mah , nyari tempat di shaf paling belakang biar cepet keluar, atau paling nggak nyari dinding or tiang untuk nyender. Lucu ya?

Dakwah vs gossip

Lucu ya, susahnya orang diajak untuk partisipasi dalam dakwah, tapi mudahnya orang berpartisipasi dalam menyebar gossip.

Ckckck… untuk ngajak dakwah susahnya setengah hidup. Alasannya macem-macem. Entah dengan alasan karena belum cukup ilmu, atau karena malu. Sehingga bikin lidah kelu. Tapi begitu ada yang ngomporin untuk ngegossip, lidahnya langsung fasih dan ikut nyebarin lagi. Wuih, aneh ya? Lucu ya?

Padahal, tentu saja, nilai perbuatannya lain banget. Kalo dakwah insya Allah dapet pahala, tapi ngegossip? Selain dibenci orang, juga dibenci Allah Swt. Amit-amit deh. Tapi, kenapa banyak di antara kita yang hobi ngegossip ketimbang semangat dakwah? Semoga menjadi renungan…

Media massa vs al-Quran

Lucu ya, kita begitu percaya banget pada apa yang disampaikan media massa, tapi kita sering mempertanyakan apa yang disampaikan al-Quran.

Jujur saja, media massa saat ini menjadi salah satu kekuatan untuk melakukan perubahan sosial, politik, ekonomi dsb. Banyak dari kita yang percaya begitu saja dengan apa yang disampaikan media massa. Kasus peledakkan bom di London awal Juli lalu, media massa hampir di seluruh dunia langsung “menuding” Islam dan kaum muslimin berada di balik serangan tersebut.

Eh, kita yang baca, banyak juga yang kemudian terprovokasi dan ikut-ikutan menjatuhkan vonis kepada Islam dan umatnya. Apa nggak bahaya banget tuh?

Tapi kita, kaum muslimin, ada juga yang masih mempertanyakan apa yang disampaikan oleh al-Quran. Isinya diutak-atik dan dipersepsi sendiri demi keuntungan dan tujuan tertentu. Kebalik-balik memang. Padahal, dalam surat al-Baqarah ayat 2 saja Allah Swt. sudah menjamin bahwa al-Quran itu “laaroiba fiihi” alias tidak ada keraguan di dalamnya. Nggak cuma itu, ayat tersebut melanjutkan (yang artinya): “petunjuk bagi mereka yang bertakwa”.

Yap, al-Quran itu pasti kebenarannya, dan sekaligus petunjuk bagi mereka yang bertakwa. Jadi, mengapa harus mempertanyakan lagi apa yang disampaikan Allah dalam al-Quran? Tapi dalam waktu bersamaan, kita lebih percaya kepada media massa (bahkan ada yang sampe nggak perlu ngecek kebenarannya), padahal nggak jarang isinya berupa ‘kabar burung' dan juga informasi yang sesat dan menyesatkan.

Surga pengen, beramal ogah


Lucu ya, pengen masuk surga, tapi ogah beramal. Hmm.. ini sih bukan hanya lucu, tapi juga aneh bin ajaib. Emangnya surga gratis? Nggak lha yauw. Kita-kita aja masih was-was, khawatir amalan baik selama ini nggak keterima karena mungkin nggak ikhlas. Lebih sedih lagi seharusnya jika kita berharap surga tapi nggak pernah (atau sedikit) beramal baik.

Sobat muda muslim, banyak di antara kita yang kepengen masuk surga, tapi diminta untuk sholat aja susahnya setengah mati. Banyak juga di antara kita yang pengen dapetin surgaNya, tapi diminta untuk taat dan patuh sama ajarannya aja ogah. Itu sih sama artinya ngarepin dapet uang pensiun tapi tanpa kerja selagi usia produktif. Lucu dan aneh banget kan?

Pengen masuk surga tapi tanpa beriman dan tanpa beramal sholeh, kira-kira mungkin nggak? Mimpi kali ye!

Ini sedikit renungan aja buat kita semua. Semoga kita mulai berbenah dalam hidup ini. Mumpung masih muda. Selagi mudah untuk melakukan berbagai amal kebaikan, jangan sia-siakan waktu kita. Kita bisa berbuat lebih banyak. Karena kita nggak pernah tahu kapan kita dijemput oleh Malaikat Ijroil untuk menghadap Allah Swt. dan mempertanggung-jawabkan perbuatan kita selama di dunia. Mumpung masih ada waktu, sebisa mungkin kita mengumpulkan banyak amal baik untuk bekal di akhirat kelak.

Rasul mulia saw. telah bersabda: “Bersegeralah menunaikan amal-amal kebajikan. Karena, saatnya nanti akan datang banyak fitnah, bagaikan penggalan malam yang gelap gulita. Betapa bakal terjadi seseorang yang di pagi hari dalam keadaan beriman, di sore harinya ia menjadi kafir. Dan seseorang yang di waktu sore masih beriman, keesokan harinya menjadi kafir. Ia menjual agamanya dengan komoditas dunia.” (HR Bukhari dan Muslim)

Semoga kita semua dimudahkan oleh Allah Ta'ala untuk melakukan amalan yang baik sesuai ajaran Islam. Ditanamkan dalam hati kita untuk gampang menerima kebenaran dan mengamalkannya. Semoga.




Thursday, September 25, 2008

U are So Special Person

Suatu haRi seoRang pembicaRa teRkenaL membuka seminaRnya denGan caRa yanG unik.

SambiL memeGanG uanG pecahan Rp. 100. 000,- ia beRtanya kepada hadiRin,

"Siapa yanG mau uanG ini?" Tampak banyak tanGan diacunGkan. PeRtanda banyak peminat.

"Saya akan beRikan ini kepada saLah satu daRi Anda sekaLian, tapi sebeLumnya perkenankanlah saya melakukan ini."

Ia beRdiRi mendekati hadiRin. UanG itu diRemas-Remas denGan tanGannya sampai beRLipat2.

LaLu beRtanya Lagi, "Siapa yanG masih mau uanG ini?"

JumLah tanGan yanG teRacunG tak beRkuRanG.

"BaikLah," jawabnya, "Apa jadinya biLa saya meLakukan ini?" ujaRnya sambiL menjatuhkan uanG itu ke Lantai dan menGinjak2nya denGan sepatunya.

Meski masih utuh, kini uanG itu jadi amat kotoR dan tak muLus Lagi.

"Nah, apakah sekaRang masih ada yanG beRminat?"

TanGan-tanGan yanG menGacunG masih tetap banyak.

"HadiRin sekaLian, Anda baRu saja menGhadapi sebuah peLajaRan pentinG.

Apapun yanG teRjadi denGan uanG ini, anda masih beRminat kaRena apa yanG saya Lakukan tidak akan menGuRanGi niLainya. BiaRpun Lecek dan kotoR, uanG itu tetap beRniLai Rp. 100.000,00.

DaLam kehidupan ini kita peRnah bebeRapa kaLi teRjatuh, teRkoyak, dan beLepotan kotoRan akibat keputusan yanG kita buat dan situasi yanG meneRpa kita.

DaLam kondisi sepeRti itu, kita meRasa tak beRhaRGa, tak beRaRti.

PadahaL apapun yanG teLah dan akan teRjadi, Anda tidak peRnah akan kehiLangan niLai di mata meReka yanG mencintai Anda, teRLebih di mata TUHAN.

JanGan peRnah Lupa - Anda SPESIAL...!!!

Thursday, September 11, 2008

Sumber Syahwat Itu Bernama: Perempuan!

Dalam Qur'an Surat Ali Imran ayat 14 dikatakan syahwat manusia kecenderungan pertama berasal dari perempuan. "Dihiasi manusia dengan syahwat yang muncul dari perempuan dan anak-anak....."

Dalam surat ini dikatakan "manusia", bukan saja laki-laki. Artinya seluruh manusia memiliki syahwat kepada perempuan. Kalau dikatakan "manusia" artinya mencakup laki-laki dan perempuan juga. Kalau laki-laki memiliki syahwat kepada perempuan itu sudah normal, tapi bagaimana dengan perempuan terhadap perempuan?

Dalam kajian tafsir, seorang ustadz menjelaskan maksud ayat ini kurang lebih sebagai berikut: Seorang perempuan bila melihat perempuan lain lebih cantik dari padanya, lebih baik dari dirinya, apakah itu pakaiannya, tas, sepatu, rumah, jilbab, perabotan dan lain-lain, biasanya langsung timbul keinginan dalam hatinya untuk bisa juga seperti orang yang dilihatnya itu atau memiliki keinginan untuk memiliki juga benda yang ada pada perempuan yang dilihatnya. Beda dengan laki-laki, laki-laki biasanya tidak timbul syahwatnya melihat sesamanya mengenakan pakaian bagus, lebih tampan, ujar Ustadz Saiful melanjutkan.

Biasanya dialog yang terjadi jika perempuan bertemu dengan perempaun lain antara lain, "Jilbabnya bagus, beli dimana? saya jadi ingin beli juga" atau "model baru ya, bagus sekali, antarkan saya dong, saya mau beli juga"!!

Pantas saja sebelum meninggal, Rasul berpesan agar benar-benar melindungi perempuan, tidak saja banyak fitnah yang ditimbulkan oleh perempuan, tapi juga syahwat (keinginan) yang dapat menjerumuskan manusia kedalam kebinasaan.

Laki-laki bergairah mencari nafkah bisa disebabkan karena perempuan. Laki-laki melakukan KKN, pekerjaan tercela dan perilaku binatang bisa juga disebabkan karena perempuan. Perempuan, adalah makluk yang luar biasa, dari rahimnya lahir manusia setingkat Rasulullah dan sehina Fir'aun.

Pesan Rasulullah kepada perempuan, hati-hatilah dalam kehidupan dunia, jangan jadi penggoda, sebagaimana perempuan juga suka digoda.

Wallaahu'alam.




Apa Yang Menghalangimu Untuk Belum Berhijab Wahai Saudariku ??

Hijab adalah pakaian wanita muslim yang menutup bagian kepala sampai dengan kaki (termasuk didalamnya jilbab/tudung dan pakaian yang longgar tidak memperlihatkan lekuk tubuh). Bagi orang awam, masalah hijab mungkin dianggap masalah sederhana. Padahal sesungguhnya, ia adalah masalah besar. Karena ia adalah perintah Allah SWT yang tentu didalamnya mengandung hikmah yang banyak dan sangat besar. Ketika Allah SWT memerintahkan kita suatu perintah, Dia Maha Mengetahui bahwa perintah itu adalah untuk kebaikan kita dan salah satu sebab tercapainya kebahagiaan, kemuliaan dan keagungan wanita.

Seperti firman Allah SWT: "Hai Nabi, katakan kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin untuk mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka, yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu”.(QS. Al Ahzab:59)

Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam pernah bersabda: "Akan ada di akhir umatku kaum lelaki yang menunggang pelana seperti layaknya kaum lelaki, mereka turun di depan pintu masjid, wanita-wanita mereka berpakaian (tetapi) telanjang, diatas kepala mereka (terdapat suatu) seperti punuk onta yg lemah gemulai. Laknatlah mereka! Sesunggunya mereka adalah wanita -wanita terlaknat."(Diriwayatkan oleh Imam Ahmad(2/33))

Sabda Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam juga pernah bersabda: “Dua kelompok termasuk penghuni Neraka, Aku (sendiri) belum pernah melihat mereka, yaitu seperti orang yg membawa cemeti seperti ekor sapi, dengannya mereka mencambuki manusia dan para wanita yg berpakaian (tetapi ) telanjang, bergoyang berlenggak lenggok, kepala mereka (ada suatu) seperti punuk unta yg bergoyang goyang. Mereka tentu tidak akan masuk Surga, bahkan tidak mendapat baunya. Dan sesungguhnya bau Surga itu tercium dari jarak perjalanan sekian dan sekian."(HR. Muslim, hadits no. 2128).

Dimasa kini banyak alasan atau sebab yang sering dijadikan alasan mengapa para wanita enggan untuk berhijab, diantaranya:

1. Belum mantap
Bila ukhti/saudari berdalih dengan syubhat ini hendaknya bisa membedakan antara dua hal. Yakni antara perintah Tuhan dengan perintah manusia. Selagi masih dalam perintah manusia, maka seseorang tidak bisa dipaksa untuk menerimanya. Tapi bila perintah itu dari Allah SWT tidak ada alasan bagi manusia untuk mengatakan saya belum mantap, karena bisa menyeret manusia pada bahaya besar yaitu keluar dari agama Allah SWT sebab dengan begitu ia tidak percaya dan meragukan kebenaran perintah tersebut.

Allah SWT berfirman Allah: "Dan tidak patut bagi lelaki mukmin dan wanita mukminah, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan yang lain tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah SWT dan Rasul-Nya maka sesungguhnya dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS. Al-Ahzab: 36)

2. Iman itu letaknya di hati bukan dalam penampilan luar
Para ukhti/saudari yang belum berhijab berusaha menafsirkan hadist, tetapi tidak sesuai dengan yang dimaksudkan, seperti sabda Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasalam: “Sesungguhnya Allah SWT tidak melihat pada bentuk-bentuk (lahiriah) dan harta kekayaanmu tapi Dia melihat pada hati dan amalmu sekalian.”(HR. Muslim, Hadist no. 2564 dari Abu Hurairah).

Tampaknya mereka menggugurkan makna sebenarnya yang dibelokkan pada kebathilan. Memang benar Iman itu letaknya dihati tapi Iman itu tidak sempurna bila dalam hati saja. Iman dalam hati semata tidak cukup menyelamatkan diri dari Neraka dan mendapat Surga. Karena definisi Iman Menurut jumhur ulama Ahlus Sunnah wal Jama'ah: "keyakinan dalam hati, pengucapan dengan lisan, dan pelaksanaan dengan anggota badan". Dan juga tercantum dalam Al-Quran setiap kali disebut kata Iman, selalu disertai dengan amal, seperti: "Orang yg beriman dan beramal shalih....". Karena amal selalu beriringan dengan iman, keduanya tidak dapat dipisah-pisahkan.

3. Allah belum memberiku hidayah
Ukhti/saudari yang seperti ini terperosok dalam kekeliruan yang nyata. Karena bila orang yang menginginkan hidayah, serta menghendaki agar orang lain mendo'akan dirinya agar mendapatkannya, ia harus berusaha keras dengan sebab-sebab yang bisa mengantarkannya sehingga mendapatkan hidayah tersebut. Seperti firman Allah SWT: "Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra'd: 11).

Karena itu wahai uhkti/saudari, berusahalah mendapatkan sebab-sebab hidayah, niscaya Anda mendapatkan hidayah tersebut dengan izin Allah SWT. Diatara usaha itu adalah berdo'a agar mendapat hidayah, memilih kawan yang shalihah, selalu membaca, mempelajari dan merenungkan Kitab Allah, mengikuti majelis dzikir dan ceramah agama dan lainnya.

4.Takut tidak laku nikah
Syubhat ini dibisikkan oleh setan dalam jiwa karena perasaan bahwa para pemuda tidak akan mau memutuskan untuk menikah kecuali jika dia telah melihat badan, rambut, kulit, kecantikan dan perhiasan sang gadis. Meskipun kecantikan merupakan salah satu sebab paling pokok dalam pernikahan, tetapi ia bukan satu-satunya sebab dinikahinya wanita.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: "Wanita itu dinikahi karena empat hal; yaitu karena harta, keturunan, kecantikan dan agamanya. Dapatkanlah wanita yg berpegang teguh dengan agama,(jika tidak) niscaya kedua tanganmu berlumur debu". (HR. Al Bukhari, kitaabun nikah,9/115).

5. Ia masih belum Dewasa
Sesungguhnya para wali, baik ayah atau ibu yang mencegah anak puterinya berhijab, dengan dalih karena masih belum dewasa, mereka mempunyai tanggung jawab yang besar dihadapan Allah SWT pada hari Kiamat. Karena menurut syariat ketika seorang gadis mendapatkan Haidh, seketika itu pula ia wajib untuk berhijab.

6. Orang tuaku dan suamiku melarang berhijab
Dasar permasalahan ini adalah bahwa ketaatan kepada Allah SWT harus didahulukan daripada keta’atan kepada mahluk siapa pun dia. Seperti dalam hadits shahih disebutkan:

"sesungguhnya ketaatan itu hanya dalam kebaikan."(HR. Al Bukhari dan Muslim). Dan sabda Rasul dalam hadist lainnya: "Dan tidak boleh ta'at kepada mahluk dengan mendurhakai (bermaksiat) kepada Al-Khaliq." (HR. Imam Ahmad, hadits ini shahih).

Maka dari itu wahai ukhti yang belum berhijab, semoga tulisan ini mejadi pembuka hati yang terkunci, menggetarkan perasaan yg tertidur, sehingga bisa mengembalikan segenap akhwat yang belum menta’ati perintah berhijab, kepada fitrah yang telah diperintahkan Allah SWT.

(Dikutip dari buku terjemahan yg berjudul asli Ila Ukhti Ghairil Muhajjabah Mal Maani'u Minal Hijab? oleh Syaikh Abdul Hamid Al Bilaly).

Wallahu A’lam.

Assalaamu'alaikum~~~~jaga hati, jaga panca indramu! jaga sikap + perbuatanmu,JANGANTURUTI NAFSU & AMARAHMU = INGAT! GUSTI ALLAH TIDAK PERNAH TIDUR = ->->-.>

PERKENALAN dari ku:

My photo
jakarta - kediri, alam raya, Indonesia
Dalam impian masa remajaku Kucoba kuangkat kembali karung-karung bernama harapan, ku terjatuh, Kucoba untuk bangkit kembali, Aku terjatuh dan aku terjatuh...... Entah berapa kali aku terjatuh, aku tak dapat menghitungnya, Namun aku masih bertahan, karena hidup tidaklah untuk mengeluh dan mengaduh Hidup adalah perjuangan, memasuki rahasia langit dan bumi, serta mencipta dan mengukir kehidupan adalah tujuan akhirku. Dan kuyakin masih ada hari esok bersama Pelangi. Aku terus berusaha dan berdoa, Aku serahkan tubuh dan jiwaku sepenuhnya untuk-Mu Tuhan,

Kategori