Friday, May 16, 2008

Berandai - andai

Andai rasa itu ada
Biar kurasakan indahnya cinta
dalam hati saja
(Warna)

Pekerjaan yang paling mudah dikerjakan adalah melamun. Berandai-andai. Dalam lamunan, kita bisa menjadi apa saja dan melakukan apa saja. Kita bisa berimajinasi menjadi Gatotkaca, superhero dari Indraprasta yang berotot kawat, bertulang besi (mungkin karena rajin minum susu berkalsium tinggi) lalu mengacak-acak Gedung Putih dan menggantung Bush Jr. di ujung Patung Liberty. Biar jadi contoh!, itulah bayaran menyakiti sesama manusia khususnya kaum muslimin.

Dalam pengandaian, kita bisa membalik masa lalu. Make everything right what gone wrong. Mungkin kita akan menuruti setiap perintah ibu dan ayah kita, tidak akan menyakiti hati mereka. Kita juga akan rajin mengerjakan PR sehingga tidak akan kena jewer atau kena setrap wali kelas. Atau kita nggak bakal mau kenalan dengan video game atau play station sehingga nggak akan addicted dengan 'heroin' elektronik itu. Buat gadis-gadis yang pernah dihamili pacar-pacarnya mungkin akan berandai nggak akan mengerjakan perbuatan terkutuk itu dan menanggung efek depannya (suer, karena hamil memang melendung ke depan tidak ada yang ke samping). Oh, we wish we can do that!
style="font-size:100%;">Tapi, mengandaikan sesuatu yang telah terjadi adalah kesia-siaan. Bahkan tak terpuji. Masa lalu sudah terjadi, tak ada yang bisa mengubahnya. Berandai-andai dengannya hanya memperpanjang penderitaan bahkan bisa menjadi trauma. Itulah sebabnya Nabi saw. meminta kita untuk tidak berandai-andai.
Kata Beliau saw. "Jika sesuatu telah menimpamu maka janganlah engkau sekali-kali berkata; 'seandainya aku melakukan begini atau begitu maka hasilnya (pasti) begini'. Akan tetapi katakanlah: 'Allah telah menakdirkan demikian, dan apa yang Dia kehendaki maka Dia lakukan'."

Satu-satunya hal yang bisa kita kerjakan saat ini adalah menyimpan kenangan pahit dalam folder memori kita. Ia adalah pelajaran yang tak boleh terulang di masa depan. Bukankah keledai tidak akan jatuh ke dalam lubang yang sama sampai dua kali? Dan, karena manusia bukan keledai – bahkan bisa lebih bodoh dari keledai --, belajar dari kesalahan menjadi penting. Muhammad the prophet says, "Tanda-tanda celakanya seseorang ada empat; pertama, adalah melupakan dosa-dosa yang telah lalu padahal Allah tetap mengingatnya..."

Jadi, biarkanlah air matamu meleleh dengan mengingat itu semua. That's better, ketimbang berandai-andai bisa mengulang masa lalu. Bila itu yang kita lakukan, maka itu adalah sebuah kontemplasi : Merenung dan memikirkan serta mencari pencerahan atas berbagai permasalahan kita. Dan kontemplasi adalah perbuatan terpuji. Allah Swt. telah memerintahkan manusia untuk banyak berkontemplasi. Di antaranya untuk memikirkan kekuasaanNya, demi meneguhkan keimanannya.

”Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, pergiliran siang dan malam, terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang berakal, yakni yang mengingat Allah dalam keadaan berdiri, duduk dan berbaring dan memikirkan penciptaan langit dan bumi, kemudian berkata, ’Duhai Tuhan kami tidaklah Engkau ciptakan semua sia-sia, Mahasuci Engkau dan selamatkanlah kami dari api neraka’.”(Ali Imraan: 190-191)

Kematian Hati

Kematian Hati
Oleh : KH. Rahmat Abdullah
Banyak orang tertawa tanpa (mau) menyadari sang maut sedang mengintainya. Banyak orang cepat datang ke shaf shalat laiknya orang yang amat merindukan kekasih. Sayang ternyata ia datang tergesa-gesa hanya agar dapat segera pergi. Seperti penagih hutang yang kejam ia perlakukan tuhannya.
Dari jahil engkau disuruh berilmu dan tak ada idzin untuk berhenti hanya pada ilmu. Engkau dituntut beramal dengan ilmu yang Allah berikan. Tanpa itu alangkah besar kemurkaan Allah atasmu.
Tersanjungkah engkau yang pandai bercakap tentang keheningan senyap ditingkah rintih istighfar, kecupak air wudlu di dingin malam, lapar perut karena shiam atau kedalaman munajat dalam rakaat-rakaat panjang.
Tersanjungkah engkau dengan licin lidahmu bertutur, sementara dalam hatimu tak ada apa-apa. Kau kunyah mitos pemberian masyarakat dan sangka baik orang-orang berhati jernih, bahwa engkau adalah seorang saleh, alim, abid lagi mujahid, lalu puas meyakini itu tanpa rasa ngeri.

Asshiddiq Abu Bakar Ra. Selalu gemetar saat dipuji orang. “Ya ALLAH, jadikan diriku lebih baik daripada sangkaan mereka, janganlah Engkau hukum aku karena ucapan mereka dan ampunilah daku lantaran ketidak tahuan mereka”, ucapnya lirih.
Ada orang bekerja keras dengan mengorbankan begitu banyak harta dan dana, lalu ia lupakan semua itu dan tak pernah mengenangnya lagi. Ada orang beramal besar dan selalu mengingat-ingatnya, bahkan sebagian menyebut-nyebutnya kepada khalayak. Ada orang beramal sedikit dan mengklaim amalnya sangat banyak. Dan ada orang yang sama sekali tak pernah beramal, lalu merasa banyak amal dan menyalahkan banyak orang karena kekurangan atau ketidaksesuaian amal mereka dengan ambisi pribadinya, atau tidak mau kalah atau tertinggal di belakang para pejuang. Mereka telah menukar kerja dan kata.
Dimana kau letakkan dirimu? Saat kecil, engkau begitu takut gelap, suara dan segala yang asing. Begitu kerap engkau bergetar dan takut, sampai sesudah pengalaman dan ilmu makin bertambah, eng-kaupun berani tampil di depan seorang kaisar tanpa rasa gentar. Telah berapa hari engkau hidup dalam lumpur yang membunuh hatimu sehingga getarannya tak terasa lagi saat obyek ma’siat menggodamu dan engkau menikmatinya? Malu kepada Allah dan hati nurani tak ada lagi.
Malam-malam berharga berlalu tanpa satu rakaatpun kau kerjakan. Usia berkurang banyak tanpa jenjang kedewasaan ruhani bertambah tinggi. Rasa malu kepada Allah, dimana kau kubur dia? Di luar sana rasa malu tak punya harga. Mereka jual diri secara terbuka lewat layar kaca, sampul majalah atau bahkan melalui penawaran langsung. 228.000 remaja mengidap putau. Dari 1500 responden usia SMP & SMU 25 % mengaku telah berzina dan hampir separuhnya setuju remaja berhubungan seks di luar nikah asal jangan perkosaan, walaupun pada saatnya mereka memperkosa.
Dan masyarakat memanjakan mereka, karena “mereka masih dibawah usia”. Mungkin engkau mulai berfikir “Jamaklah, bila aku main mata dengan aktifis perempuan - bila engkau laki-laki atau sebaliknya (akhi dan ukhti)- di celah-celah rapat atau ber-dialog dalam jarak sangat dekat atau bertelepon dengan menambah waktu sekedar melepas kejenuhan dengan canda jarak jauh”.
Betapa jamaknya ‘dosa kecil’ itu dalam hatimu. Kemana getarannya yang gelisah dan terluka dulu, saat “TV Thaghut” menyiarkan segala “kesombongan jahiliyah dan maksiat? Saat engkau mau muntah melihat laki-laki berpakaian perempuan, karena kau sangat percaya kepada ustadzmu yang mengatakan “Jika Allah melaknat laki-laki berbusana perempuan dan perempuan berpakaian laki-laki, apa tertawa riang menonton akting mereka tidak dilaknat?” Ataukah taqwa berlaku saat berkumpul bersama dan yang paling tinggi berteriak “Ini tidak islami” berarti ia paling islami, lalu sesudah itu urusan kesendirian tinggallah antara engkau dengan lamunanmu, tak ada Allah disana?
Sekarang kau telah jadi kader hebat. Tidak lagi malu-malu tampil. Justeru engkau sangat malu untuk menahan tanganmu dari jabatan tangan lembut lawan jenismu yang muda dan segar. Kau yang tak mampu melawan berontak hatimu untuk tidak makan berdiri di tengah suatu resepsi mewah. Berbisiklah syaithanmu : “Jika kau duduk di lantai atau di kursi malam ini citra da’wah akan ternoda”. Seakan engkau-lah pemilik da’wah ini.
Lupakah kau, jika bidikanmu ke sasaran tembak meleset 1 milimeter, maka pada jarak 300 meter dia tidak melenceng 1 milimeter. Begitu jauhnya inhiraf di kalangan awam, tak lain karena para elitenya telah salah melangkah lebih dulu. Siapa yang mau menghormati ummat yang “kiayi”-nya membayar beberapa ratus ribu kepada seorang perempuan yang beberapa menit sebelumnya ia setubuhi, lalu dengan enteng mengatakan “Itu maharku, Allah waliku dan malaikat itu saksiku” dan sesudah itu segalanya selesai, berlalu tanpa rasa bersalah? Siapa yang akan memandang ummat yang da’inya berpose lekat dengan seorang perempuan muda artis penyanyi lalu mengatakan “Ini anakku, karena kedudukan guru dalam Islam seperti ayah, bahkan lebih dekat lagi”.
Akankah engkau juga menambah barisan kebingungan ummat lalu mendaftar diri sebagai ‘alimullisan (alim di lidah)? Apa kau fikir sesudah semua kedangkalan ini kau masih aman dari kemungkinan jatuh ke lembah yang sama? Apa beda seorang remaja yang menzinai teman sekolahnya dengan seorang alim yang merayu rekan perempuan dalam organisasinya? Kau andalkan penghormatan masyarakat awam karena statusmu lalu kau serang maksiat masyarakat awam? Bukankah ini mengkomersilkan kekurangan masyarakat? Koruptor macam apa engkau ini? Semoga ini tak terjadi pada dirimu, karena kafilah yang pernah berlalu tak sunyi dari peruntuh bangunan yang dibina dengan susah payah.
Pernah kau lihat sepasang mami dan papi dengan anak remaja mereka. Tengoklah langkah mereka di mal. Betapa besar sumbangan mereka kepada Amerika dan Zionis dengan banyak-banyak mengkonsumsi produk makanan mereka, semata-mata karena nuansa “westernnya”. Engkau akan menjadi faqih pedebat yang tangguh saat engkau tenggak minuman halal itu, dengan perasaan “lihatlah, betapa Amerikanya aku”. Memang, soalnya bukan Amerika atau bukan Amerika, melainkan apakah engkau punya harga diri. Mahatma Ghandi memimpin perjuangan kemerdekaan India dengan kain tenunan bangsa sendiri atau terompah lokal yang tak bermerk. Namun setiap ia menoleh ke kanan, maka 300 juta rakyat India menoleh ke kanan. Bila ia tidur di rel kereta api, maka 300 juta rakyat India akan ikut tidur disana. Bila ia minta bangsanya mendongakkan kepala dengan bangga, maka 300 juta bangsa India akan tegak, walau-pun tulang punggung mereka tak kuat lagi berdiri karena lapar dan kurang gizi.
Kini datang “pemimpin” ummat, ingin mengatrol harga diri dan gengsi ummat dengan pameran mobil dan rumah mewah serta hidup di tengah gemerlap kehidupan selebritis. Saat fatwa digenderangkan, ummat tak lagi punya kemauan untuk mendengar. “Engkau adalah penyanyi bayaranku dengan uang yang kukumpulkan susah payah. Bila aku bosan aku bisa panggil penyanyi lain yang kicaunya lebih memenuhi seleraku”.

Sunday, May 4, 2008

Ngantuk Saat Khutbah Jum'at

Sudah menjadi pemandangan yang lazim setiap hari Jum’at, saat Khatib sedang berkhutbah tampak di beberapa tempat terpisah, jamaah sholat Jum’at terlihat terkantuk-kantuk dengan khusyu’. Ada yang sampai terdengar dengkurnya. Ada juga yang hanya tertunduk tenang dengan mata terpejam, sesekali diiringi hentakan kaget karena menahan tubuh yang limbung. Sementara suara sang Khatib terdengar seperti nyanyian Nina Bobo yang semakin menghantar sang jamaah memasuki alam mimpi.

Ironisnya hal ini terjadi tatkala ibadah suci sedang dilaksanakan, yakni ibadah sholat Jum’at. Suatu ibadah yang oleh Rasulullah saw amat sangat ditekankan untuk dilaksanakan, dengan ancaman dikunci mati hatinya oleh Allah, bagi mereka yang dengan sengaja tidak mengerjakan sholat Jum’at tiga kali. (HR. Abu Dawud, At Tirmidzi, An Nasa-I dan Ibnu Majah).

Rasulullah saw menerangkan kepada kita, betapa besarnya fadhilah mengerjakan sholat Jum’at. Di antaranya adalah dihapuskannya dosa-dosa yang terjadi diantara jum’at tersebut dengan jum’at sebelumnya, bahkan ditambah tiga hari (HR. Muslim No. 857). Tentunya fadhilah ini hanya bisa di dapat apabila sholat Jum’atnya dikerjakan dengan penuh kesungguhan dengan memenuhi adab dan tertibnya.

Di antara adab dan tertib sholat Jum’at adalah mendengarkan khutbah dengan seksama dan sungguh-sungguh (HR. Bukhari No 843). Disebutkan di dalam hadits bahwa Rasulullah saw bersabda :

Hadirilah Khutbah dan mendekatlah kepada imam (Khatib), karena seorang yang terus menjauh (dari imam) dia akan diakhirkan (masuk) ke dalam surga, meskipun ia masuk ke surga (HR. Abu Dawud No 1108, Ahmad).
Akan tetapi khutbah Jum’at ternyata menjadi bagian yang kurang favorit di antara para jamaah sholat Jum’at. Hal ini tak bisa lepas dari beberapa faktor. antara lain:

Faktor Khatib

1. Lamanya khutbah.
Di dalam suatu hadits Rasulullah saw bersabda : Sesungguhnya panjang sholat seseorang dan pendek khutbahnya merupakan tanda kefahamannya (pada agama). Maka panjangkanlah sholat dan pendekkanlah khutbah! (HR. Muslim, No 869)

Syaikh Ahmad bin Muhammad Alu Abdul Lathif Al Kuwaiti berkata : Wahai Khatib yang membuat orang menjauhi dzikrullah (khutbah) dikarenakan kamu memanjangkan perkataan! Tahukah engkau bahwa di antara sunnah khutbah Jum’at adalah meringkaskannya dan tidak memanjangkannya. Dan sungguh memanjangkan khutbah menyebabkan hadirin lari (tidak suka), menyibukkan pikiran, dan tidak puas dengan tuntunan Nabi Pilihan (Muhammad saw) dan pendahulu umat yang baik. (Al Ujalah fi Sunniyati Taqshiril Khutbah).

Yang terjadi sekarang, khatib seringkali bertele-tele, panjang lebar, dan tidak peduli dengan banyaknya jamaah yang mulai memasuki ‘dunia lain’. Dan jamaah juga tidak peduli dengan apa yang dibicarakan khatib.

2. Tidak menjiwai Khutbah.
Khatib berkhutbah seakan hanya untuk memenuhi syarat saja, monoton, tanpa intonasi, seperti pidato, bahkan seringkali hanya membaca teks yang sudah disiapkan. Kesannya seperti murid TK yang sedang membaca deklamasi. Bandingkanlah dengan gaya Rasulullah saw berkhutbah di dalam hadits :

Dari Jabir bin Abdullah, dia berkata: “Kebiasaan Rasulullah saw jika berkhutbah, kedua matanya memerah, suaranya tinggi, dan kemarahannya sungguh-sungguh. Seolah-olah Beliau memperingatkan tentara dengan mengatakan: ‘Musuh akan menyerang kamu waktu pagi. Musuh akan menyerang kamu waktu sore’.” (HR. Muslim No 867).

Imam Nawawi berkata : “Hadits ini dijadikan dalil, bahwa khatib disukai untuk membesarkan perkara khutbah (yakni serius dan sungguh-sungguh), meninggikan suara, membesarkan perkataannya. Dan hal itu hendaklah sesuai dengan tema yang dibicarakan, berupa targhib (hasungan) dan tarhib (ancaman)….”
Dengan khutbah yang demikian, maka akan menjadikan jamaah merindukan khutbah, dan betah untuk menyimak khutbah. Sehingga tidak ada jamaah yang sengaja telat datang hanya untuk menghindari khutbah yang membosankan.

Faktor Jamaah

1. Tidak butuh nasehat.
Perasaan tidak butuh nasehat ini terjadi karena banyaknya penyimpangan yang dilakukan justru oleh orang yang dianggap faham agama. Dianggapnya khutbah Jum’at hanya buang-buang waktu, pinter-pinteran ngomong tapi tanpa amal nyata. Khatib di mimbar berpetuah, tapi turun mimbar berulah. Umat jadi kebal dinasehati.

Seharusnya perasaan seperti ini harus dibuang jauh-jauh. Karena nasehat dan peringatan dari ayat maupun hadits, apapun bentuknya, akan bermanfaat pada diri seseorang yang beriman. Sebagaimana firman Allah di surat Adz Dzariyat (51) ayat 55 : Dan berilah peringatan! Karena peringatan itu bermanfaat untuk orang yang beriman.

2. Meremehkan ibadah.
Ibadah sholat Jum’at komplit dengan khutbahnya, adalah ibadah yang membutuhkan waktu khusus. Bagi orang yang berpedoman “Time is Money”, ibadah ini hanya buang-buang waktu saja. Sehingga meluangkan waktu untuk mendengar khutbah adalah suatu beban berat. Bahkan kalau bisa, hadir sholat Jum’at saat iqomat saja. Kalaupun hadir saat khutbah, rasa malas untuk mendengar khutbah menyebabkan dia ngantuk, dan bahkan terlelap.

3. Ibadah dengan tenaga sisa
Ibadah Jum’at di Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim ini dikerjakan pada hari kerja. Sehingga sholat Jum’at dikerjakan saat istirahat kerja. Namanya juga saat istirahat, setelah lelah bekerja jamaah memanfaatkan waktu ini untuk mengendorkan urat syaraf. Waktu ideal untuk melepas lelah. Dan waktu yang menjadi korban istirahat ini adalah waktu khutbah.

Bagaimana bisa khusyu dan siap mendengar khutbah jika jamaahnya kelelahan? Khatib boleh berapi-api, bicara bak singa podium, tapi dengan sisa tenaga yang dimiliki jamaah, khutbah sang khatib tidak cukup kuat untuk mengangkat kelopak mata jamaahnya. Mengapa? Karena sholat Jum’at dikerjakan di sela-sela kesibukan kerja yang melelahkan.

Bandingkan dengan orang Nasrani yang beribadah di hari Minggu, dan Yahudi di hari Sabtu. Pada dua hari ini orang libur kerja. Bahkan muslimin di Indonesia pun memilih 2 hari ini untuk libur. Karena ibadah dikerjakan pada saat tenaga masih fresh, dan memang disediakan waktu agar fresh, maka ibadahnyapun dikerjakan dengan penuh tenaga dan semangat.

Lantas mengapa kita tidak tetapkan saja hari Jum’at sebagai hari libur umat Islam, sehingga kita bisa menjalani ibadah kita dengan khusyu? Mengapa memilih hari Sabtu dan Minggu mengikuti orang-orang Yahudi dan Nasrani dalam berlibur?


STANDAR YANG BENAR

Sampeyan semua pasti pernah dengar seorang ibu ngudang anaknya “Cah bagus-bagus dewe…….. cah ayu-ayu dewe…” Atau dengan kalimat yang semakna dengan itu. Di mata sang ibu anaknya adalah paling ngganteng, paling cantik dan tentunya paling pinter. Nggak peduli si anak itu sebenarnya cacat, atau kurang ganep, tetap saja si ibu akan melihat dengan kacamatanya sendiri.

Saat sudah dewasa pun, kita menilai kecantikan dan ketampanan orang dengan sudut pandang masing-masing. Ada yang menilai gadis gingsul itu molek. Tapi ada juga yang memandangnya jelek. Ada yang menilai perjaka dengan kumis nyompok itu ngganteng. Tapi ada juga yang menganggapnya jorok, apalagi pas minum, keliatan klebus njijiki. Orang menyebutnya sebagai relatif.

Hal yang relatif ini dulu juga berlaku dalam takaran dan ukuran zaman dulu. Mbah buyut kita dulu mbeli beras satuannya beruk. Ini bukan munyuk pencari kelapa itu. Tapi justru ini nama satu takaran beras. Padahal beruk satu daerah dengan daerah lain itu beda. Lebih rumit lagi saat orang beli tanah sawah. Satuan di tempat saya namanya “pathok”. Satu pathok satu desa belum tentu sama ukurannya dengan satu pathok desa lain.

Waktu pun juga begitu. Dulu ada jam pasir. Di kisah-kisah silat kita masih dapati kata-kata seperminuman teh. Semuanya menunjukkan waktu yang tidak tentu. Belum tersandarisasi.

Di pelajaran fisika saya mendapati bahwa satuan dan ukuran itu harus distandarisasi. Semakin beradab manusia, semakin butuh namanya standarisasi ukuran ataupun takaran. Maka ditemukanlah yang namanya meter, gram, dan detik dengan definisinya masing-masing. Jika satuan sudah ditetapkan, manusia bisa mengukur, menimbang dan mengetahui umur apapun, bahkan bumi ataupun alam semesta ini.

Adakah kebaikan dan keburukan perlu distandarisasi? Tentu saja. Kalo tak ada standarisasi maka yang ada ketidakteraturan alias chaos. Apakah semua setuju bahwa kebaikan dan keburukan distandarisasi? Tentu saja tidak. Ada pihak-pihak yang tidak suka ditetapkannya standarisasi baik dan buruk ini. Dan lebih suka dikaburkan.

Di dalam ajaran agama saya, ada dikenal amar ma’ruf nahi munkar. Kalimat ini sering diartikan dengan memerintahkan kepada yang baik dan mencegah dari kemunkaran (keburukan). Pertanyaannya : mengapa kebaikan disebut ma’ruf, dan keburukan disebut munkar?

Asal arti kata ma’ruf adalah yang dikenal/diketahui, sedangkan arti kata munkar adalah yang diingkari. Ma’ruf mengandung arti kebaikan, yakni apa-apa yang dikenal dan diketahui baik menurut Kitabullah dan Sunnah rasul. Sedangkan Munkar mengandung arti yang diingkari oleh Kitabullah dan Sunnah Rasul. Maka disini ada standarisasi yang mutlak tentang kebaikan dan keburukan yakni Kitabullah dan Sunnah Rasul. Sehingga disini untuk kebaikan dipakai kata ma’ruf dan untuk keburukan dipakai kata munkar.

Lha kalo cuma baik dan buruk tanpa ada standarisasi, maka orang akan cenderung mencari pembenaran untuk semua kelakuannya. Sogok akan disebut komisi, munafik akan disebut luwes, merdukun disebut ikhtiyar, syirik akan disebut peninggalan nenek moyang, riba akan disebut sewa uang, pelacuran akan disebut sewa barang,dan makan bangkai akan disebut sebagai makan sembelihan tuhan.

Ajaran agama yang baik akan memberikan batasan baik dan buruk dengan definisi yang terukur. Saat ini saya masih yakin bahwa dunia ini harus dilihat secara hitam putih. Karena toh di akherat sono hanya ada surga dan neraka saja. Maka definisi ma’ruf dan munkar adalah tepat. Usaha mengaburkan standarisasi baik buruk ataupun hitam putih ini selalu diidentikkan dengan usaha iblis dan setan dalam ajaran agama manapun.

Wa laa talbisul haqqo bil baathil (janganlah mencampur adukan antara yang haq/benar dengan yang salah/bathil), itu perintah Kitabullah. Bahkan ada doa yang terkenal : Allahumma arinal haqqo haqqo, warzuqnattiba’a. Wa arinal bathila bathila, warzuqnajtinaba. Inti isi doanya, agar ditunjukkan mana yang haq dan mana yang bathil.

Lha kalo urusan takaran saja jika gak distandarisasi mbikin kaco, apalagi urusan haq dan bathil, baik dan buruk. Hanya yang mengemban misi iblis dan setanlah yang tidak menyukai standarisasi kebaikan dan keburukan. Dan biasanya nafsu manusia akan nyaman dengan ini.


BAHAYA ROKOK!!

Risalah Atas Rokok
Dr. Adnil Basha, SpJP

Racun pada Rokok. Rokok mengandung kurang lebih 4000 elemen-elemen, dan setidaknya 200 diantaranya dinyatakan berbahaya bagi kesehatan. Racun utama pada rokok adalah tar, nikotin, dan karbon monoksida. Tar adalah substansi hidrokarbon yang bersifat lengket dan menempel pada paru-paru. Nikotin adalah zat adiktif yang mempengaruhi syaraf dan peredaran darah. Zat ini bersifat karsinogen, dan mampu memicu kanker paru-paru yang mematikan. Karbon monoksida adalah zat yang mengikat hemoglobin dalam darah, membuat darah tidak mampu mengikat oksigen.

Efek Racun. Efek racun pada rokok ini membuat pengisap asap rokok mengalami risiko (dibanding yang tidak mengisap asap rokok):

14x menderita kanker paru-paru, mulut, dan tenggorokan
4x menderita kanker esophagus
2x kanker kandung kemih
2x serangan jantung
Rokok juga meningkatkan resiko kefatalan bagi penderita pneumonia dan gagal jantung, serta tekanan darah tinggi.
Batas Aman. Menggunakan rokok dengan kadar nikotin rendah tidak akan membantu, karena untuk mengikuti kebutuhan akan zat adiktif itu, perokok cenderung menyedot asap rokok secara lebih keras, lebih dalam, dan lebih lama.

TIDAK ADA BATAS AMAN BAGI ORANG YANG TERPAPAR ASAP ROKOK.

Kanker Paru-paruTentang Kanker. Anak-anak yang lahir tahun 1985, diperkirakan sepertiganya akan pernah menderita kanker, dan kira-kira seperempatnya akan meninggal karena kanker. Kita semua memiliki keluarga atau teman yang mengidap kanker. Kanker pembunuh terbesar, yaitu kanker paru-paru, membunuh hampir 90% penderitanya, atau hampir 30% dari seluruh kematian akibat kanker. Namun sesungguhnya justru kanker paru-parulah yang paling mudah dicegah. Surver dalam beberapa dekade menunjukkan bahwa satu-satunya penyebab mayoritas kanker paru-paru adalah asap rokok.

KarsinogenZat-zat karsinogen (pemicu kanker) yang terkandung pada rokok adalah:

vinyl chloride
benzo (a) pyrenes
nitroso-nor-nicotine
Satu-satunya zat yang lebih berbahaya daripada asap rokok dalam memicu kanker paru-paru adalah zat-zat radioaktif. Itu pun jika dimakan atau dihidap dalam kadar yang cukup.
Efek Kanker Paru-Paru. Kematian umumnya bukan terjadi karena kesulitan bernafas yang diakibatkan oleh membesarnya kanker, tetapi karena posisi paru-paru dalam sistem peredaran darah menjadikan kanker mudah menyebar ke seluruh tubuh. Penyebaran metastase ke arah otak dan bagian kritis lainnya lah yang mengakibatkan kematian itu. 90% penderita meninggal dalam 3 tahun setelah diagnosis.

Korelasi Dengan Rokok. Industri rokok menganggap bahwa kaitan antara jumlah penderita kanker paru-paru dengan tingginya konsumsi rokok hanya merupakan kebetulan. Berbagai penelitian menunjukkan korelasi yang sangat positif dan sangat konsisten bahwa satu-satunya penyebab kanker paru-paru secara umum adalah konsumsi rokok.

Rokok pada kehamilan. Kehamilan adalah masa kritis bagi janin yang sedang dikandung. Janin menerima pasok zat makanan hanya dari tubuh ibunya melalui placenta. Selama waktu kehamilan, terjadi masa kritis yang berbeda-beda dengan efek yang berbeda pula.

Efek Rokok. Racun rokok yang diserap oleh ibu (baik sebagai perokok maupun perokok pasif), meningkatkan resiko sebagai berikut pada janin:

pertumbuhan terhambat
komplikasi selama pertumbuhan
lahir prematur
berat badan rendah
kesulitan bernafas saat lahir
sakit dalam hari-hari pertama setelah lahir
meninggal mendadak dalam hari-hari pertama setelah lahir
Atersoklerosis

Penyumbatan Pembuluh Darah. Atherosclerosis adalah akumulasi dalam arteri, oleh zat-zat lemak, otot halus abnormal, serta tumpukan kolesterol. Akibat akumulasi ini, terjadi penyempitan pembuluh darah, dan bahkan dapat terjadi penyumbatan.

Proses ini disebabkan oleh:
a. faktor keturunan
b. konsumsi rokok
c. tekanan darah tinggi
d. konsumsi kolesterol

Pencegahan
a. hentikan konsumsi rokok
b. menjauh dari perokok
c. kurangi konsumsi kolesterol
d. lakukan terapi hipertensi

Jenis Asap Rokok. Ada dua macam asap rokok yang mengganggu kesehatan.

Asap utama (mainstream), adalah asap yang dihisap oleh si perokok
Asap sampingan (sidestream), adalah asap yang merupakan pembakaran dari ujung rokok, kemudian menyebar ke udara
Asap sampingan memiliki konsentrasi yang lebih tinggi, karena tidak melalui proses penyaringan yang cukup. Dengan demikian pengisap asap sampingan memiliki resiko yang lebih tinggi untuk menderita gangguan kesehatan akibat rokok.
Perokok Pasif. Perokok pasif adalah orang-orang yang tidak merokok, namun menjadi korban perokok karena turut mengisap asap sampingan (di samping asap utama yang dihembuskan balik oleh perokok).

Perokok pasif memiliki resiko yang cukup tinggi atas kanker paru-paru dan jantung koroner, serta gangguan pernafasan. Bagi anak-anak di bawah umur, terdapat resiko kematian mendadak akibat terpapar asap rokok. Setidaknya tercatat 4000 kematian perokok pasif per tahun di US.

Upaya Hukum. Mungkinkah ada upaya hukum untuk menuntut perokok?

Cara berhenti merokok

Analisis Kebiasaan. Lakukan analisis atas kebiasaan-kebiasaan merokok yang telah dilakukan selama ini. Misalnya:
- Kapan waktu tersering Anda untuk merokok
- Kapan Anda secara otomatis ingin merokok
- Hasil analisis ini akan membantu dalam mengerem keinginan merokok.
Susun Daftar Alasan
Lakukan segala hal yang membuat Anda tidak kembali merokok. Selalu ingat alasan-alasan yang mendasari Anda untuk tidak merokok. Jika perlu susun daftar alasan itu.
- Menghindari kanker, gagal jantung, gangguan pencernaan
- Kehidupan sosial yang lebih baik
- Ingat kesehatan dan kepentingan anak/keluarga
- Makan lebih enak
Langsung Berhenti. Pilihlah sebuah hari di mana Anda akan berhenti. Dan pada hari itu, langsung berhenti total tanpa melakukan tahapan-tahapan. Umumkan rencana Anda kepada orang-orang dekat Anda agar mereka bisa membantu.

Waspada Pada Hari-Hari Awal. Hari-hari awal akan terasa sangat berat. Cobalah mengalihkan perhatian dengan mengkonsumsi permen atau permen karet tanpa gula. Sementara waktu, kurangilah kegiatan yang berkaitan dengan rokok, seperti pergi ke bar.

Nikmati Hidup. Uang yang seharusnya dipakai untuk membeli rokok dapat dipakai untuk membeli hadiah bagi diri sendiri, seperti membeli buku, membeli kaset, nonton bioskop, dan hal-hal menyenangkan lainnya.

Konsumsi Rendah Kalori. Selama minggu-minggu pertama (sampai kira-kira empat minggu), makanlah makanan yang mengandung kalori rendah. Juga minumlah banyak air


Saturday, April 19, 2008

Merit Dulu, Pacaran Kemudian

'Wahai sekalian pemuda, barangsiapa di antara kalian berkesanggupan (sudah mampu) maka hendaklah menikah. Karena sesungguhnya ia (menikah) dapat memejamkan mata dan menjaga kemaluan. Dan barangsiapa belum mampu, maka berpuasalah. Maka sesungguhnya puasa itu benteng baginya'. [HR Bukhari dan Muslim]

Seorang teman saya waktu sekolah dulu, punya pacar yang kalo dari segi fisik cukup bagus. Mereka pasangan yang serasi banget. Ibarat panci dengan tutupnya. Klop. Maklum, yang cowok selain pandai di bidang akademik, ia juga terampil berorganisasi dan yang wanitanya cerdas. Dua sejoli ini setahu saya, cukup akrab dan akur. Sampe-sampe banyak teman yang meramalkan bahwa pasangan ini bakalan terus langgeng sampe ke pelaminan.

Ternyata, ramalan tinggal ramalan, mereka berpisah alias putus ketika sama-sama lulus sekolah dan masing-masing menikah dengan pasangan lain. Yah, kita emang nggak bisa meramal. Dukun sekali pun nggak bisa meramal, mereka cuma nebak. Buktinya, waktu zamannya judi nomer buntut (atau sekarang togel), banyak orang sampe bertanya ke dukun. Hmm... kalo dukun tersebut tahu nomor buntut, pasti bakalan masang sendiri, nggak bakal ngasih tahu. Tul nggak? Eh, kok jadi ngomongin dukun sih? Hehehe... iya saya cuma ingin membuat alur logika aja. Bahwa kita nggak bisa memprediksi. Intinya begitu. Jadi kalo pun sekarang semangat pacaran dengan tujuan ingin menikahinya, itu pun tetap masih gelap. Nah, pelajaran yang bisa diambil adalah kita harus pandai memilih jalur dan tentunya harus akur bin klop dengan panduan hidup kita, yakni ajaran Islam. Setuju kan?

Ada juga sih memang, kakak teman saya yang pacaran sejak bangku SMP sampe lulus SMU (karena kebetulan bareng terus dua sejoli itu), bahkan sampe masing-masing bekerja mereka tetap awet menjalin hubungan. Hingga akhirnya mengucap ijab-kabul di depan wali dan petugas pencatat pernikahan dari KUA. Mereka pasangan yang cukup bahagia. Model yang seperti ini juga nggak sedikit di lapangan. Mereka berhasil membina keluarga, yang saling dikenalnya sejak SMP melalui pacaran.

Tapi kenapa saya tetep ngotot ingin membahas masalah ini? Kenapa pula ingin mempersoalkan pacaran sebelum menikah? Ya, karena saya punya tanggung jawab untuk menyampaikan kebenaran. Memangnya pacaran sebelum menikah nggak benar? Memang pacaran nggak boleh? Memangnya kita bisa langsung menikah tanpa pacaran dulu? Memang lidah tak bertulang...(eh, malah nyanyi!).

Coba deh SMART!

Dalam ilmu manajemen dikenal istilah SMART. Apa tuh? Itu rumusan dari Specific, Measurable, Achievable, Reasonable, Time-phased. Walah, masa’ sih untuk menentukan apakah memilih pacaran atau menikah aja harus pake istilah-istilah yang bikin ribet kayak gini?

Tenang sobat, saya mencoba mengenalkan rumusan ini karena menurut saya ini berlaku umum. Untuk tujuan apa saja. Tapi biasanya ini akan memberikan dampak yang cukup bagus untuk membuat komitmen bagi diri sendiri dan juga orang yang kita ajak membuat sebuah komitmen. Yuk, kita bahas satu per satu formula SMART ini.

Spesifik artinya tertentu atau khusus. Boleh dibilang tujuan kita harus tertentu, khusus, dan bila perlu jelas dan khas. Misalnya untuk apa kita pacaran? Tanamkan baik-baik pertanyaan itu dalam diri kamu. Sama seperti halnya untuk apa kita belajar. Tiap orang mestinya akan berbeda-beda menjawabnya karena sesuai tujuan. Ada yang pacaran mungkin sebatas ikutan tren, ada yang menjawab sekadar iseng, ada pula yang menjawab sebagai sarana mengenal pasangan yang akan dinikahi. Eh, saya kok malah ragu kalo pada usia yang masih ABG ini kita berkomitmen bahwa pacaran untuk mengenal pasangan yang akan dinikahi. Tul nggak? Menurut kamu gimana?

Jujur saja. Saya nggak nuduh, cuma saya sendiri sampe usia sekarang masih merasakan masa-masa ABG dulu, bahwa tuntutan untuk memiliki kekasih (pacar) lebih karena panas akibat dikomporin teman yang udah punya gandengan atau karena kebutuhan untuk berbagi rasa dengan lawan jenis. Tapi sejatinya, kalo ditanya tentang nikah, pasti bingung dan langsung kehilangan kata-kata. Bahkan nggak memikirkan sedikit pun, kecuali mungkin kalo yang ditanya udah dewasa ada yang langsung mantap menjawab sebagai upaya mengenal pasangan untuk menikah. Jadi intinya, kalo sekadar iseng percuma aja. Nggak punya tujuan yang jelas dan khas serta tertentu bisa berabe nantinya.

Nah, rumus yang kedua sebuah tujuan itu harus Measurable alias bisa terukur. Kalo tujuan belajar adalah untuk ibadah dan ingin mendapat wawasan, maka itu pun harus terukur. Misalnya, apa yang bisa didapatkan dari belajar. Kira-kira memuaskan nggak kalo sudah dapat sampe level tertentu yang sudah direncanakan. Ada tingkat keberhasilan yang bisa terukur. Begitu pun dengan membina hubungan seperti pacaran, bisa nggak terukur kegiatan itu. Jangan asal aja. Hubungan seperti apa yang bisa dijalin, dan tolong dinilai apakah dengan mengetahui karakter dia sudah dianggap terukur dari tujuan semula atau belum, apakah pertemuan dan kualitas curhat dianggap sebagai bentuk hasil hubungan yang bisa terukur untuk menentukan kelayakan hubungan tersebut bisa dilanjutkan atau tidak. Jadi, kalo cuma main-main dan sekadar iseng, enaknya lakukan kegiatan lain aja yang tak berisiko tinggi. Karena ujungnya mesti nggak bisa dipertanggungjawabkan.

Ketiga, soal Achievable alias dapat dicapai. Tentukan pencapaiannya. Misalnya, kalo belajar sekian minggu kita bisa apa. Kalo pacaran selama dua tahun sudah tahu apa aja dari pasangan kita. Masalah apa aja yang bisa diketahui dan kita kenal dari pasangan yang kita pacari. Tentukan target pencapaiannya. Nggak asal melakukan aja. Nah, kalo kira-kira proyek pacaran itu nggak bisa dicapai hasil-hasilnya, buat apa dilakukan. Betul ndak?

Terus tentang Reasonable itu bisa diartikan layak, pantas, dan masuk akal. Oke jika pacaran dianggap layak, pantas, dan masuk akal, tentu harus ada ukurannya dong. Apa yang membuat pacaran itu pantas, apa yang membuat pacaran itu masuk akal. Jika memang ada, coba tunjukkan kepada orang-orang. Soalnya, kalo pacaran itu dianggap sebuah proyek yang bisa memuluskan proses mengenal pasangan untuk dinikahi, maka harus jelas juga apakah ini termasuk proyek padat karya atau padat modal (idih, kayak usaha aja?). Iya, maksudnya kita harus merinci dengan detail sebelum melakukan pacaran apakah masuk akal atau cuma proyek fiktif dan bahkan termasuk ekonomi berbiaya tinggi? Silakan dipikirin.

Nah, yang terakhir adalah Time-phased, ini artinya kita harus menentukan tahapan-tahapan waktunya. Kapan memulai, kapan mencapai klimaks, dan kapan mengakhiri. Ini harus jelas, bila perlu dibuat grafik supaya jelas tergambar semua urutan waktunya. Kayak kalo kerja di bidang penerbitan media massa, pasti ada urutan waktu: mulai dari rapat redaksi, membagi tugas kepada para reporter, para jabrik menulis hasil kerja koresponden dan reporter, editing oleh tim editor bahasa, kapan setting, tanggal berapa naik cetak, sampe hari apa harus edar ke pembaca. Semua urutan waktu itu punya makna.

Bagaimana dengan pacaran, mungkin bisa dirinci: pada usia berapa saya berani pacaran, kapan kenalannya, dengan siapa, orang yang kayak gimana, tujuannya apa, kapan bisa mengetahui isi hati dan perilakunya, kapan bisa mengenal keluarganya, tahun berapa punya modal, kapan serius memikirkan nikah, dan kapan waktu harus menikah. Semua itu harus jelas urutannya. Jangan sampe pas ditanya sama calon mertua, “Kapan bisa menikah dengan anak saya?”, kamu jawabnya, “Ya, sekarang mah mau main-main dulu aja, Pak. Saya juga masih kuliah. Belum kerja!” Waduh, belum siap kok nekat?

Main-main terus, atau mulai serius?

Oke deh, semoga kamu paham dengan paparan formula yang saya tulis. Ini sekadar ingin ngajak kamu merenung aja. Apakah selama ini apa yang kamu lakukan dengan memilih pacaran dulu sebelum merit menguntungkan atau tidak secara ekonomi, sosial, dan juga politik (eh, secara politis orang tua itu suka kepada anak-anak yang mandiri dan bertanggung jawab, kalo cuma iseng aja atau masih perlu milih-milih dan apalagi tanpa ikatan jelas dan kuat, maka bisa meruntuhkan keyakinan dan kepercayaan mereka kepada kita. Suer!).

Sobat muda muslim, kalo dalam proyek pacaran kamu nggak bisa mempertanggungjawabkan formula SMART ini, jangan harap bisa benar pacarannya. Ini baru dilihat dari sudut pandang manajemen lho. Belum hukum Islam. Karena kalo bicara hukum, meskipun terpenuhi unsur lain, misalnya sudah sesuai formula SMART, tapi dalam hubungannya melanggar batasan-batasan yang ditetapkan Islam, maka tetap tertolak dan diberi label dosa.

Gimana, masih tetep pengen pacaran dulu? Saran saya sih, jangan dikalahkan oleh nafsu, jangan rela akal sehat dijajah gerombolan setan yang menutup mata dan hati kita dari kebenaran. Oke deh, lanjutin ke artikel berikutnya. . Tetep semangat![]


Di sadur dari buku: Loving You, Merit Yuk
Penulis : O.Solihin & G.Hafidz
Penerbit : Gema Insani




Ramalan??? Jangan Sampai Tertipu!!

Ramalan??? Jangan Sampai Tertipu!!

Bisnis membaca nasib saat ini makin heboh saja. Segala macem cara ditempuh untuk menawarkan jasa membaca masa depan seseorang. Namanya pun macem-macem. Ada yang wujudnya astrologi, feng shui, ilmu penerawangan, kartu Tarot, dan lain sebagainya. Media yang dipakai pun juga beragam. Semua media mulai dirambah. Dari tipi, radio, koran, majalah, SMS di Hape sampai yang paling primitip yakni dengan menggelar lapak di pinggir jalan.

Herannya, masyarakat juga menyambut dengan antusias. Acara yang membahas nasib dan masa depan seseorang selalu saja banyak penggemarnya. Dan sebagaimana juga telah ditunjukkan pada awal tahun kemaren, tukang ramal dan tukang baca masa depan ini senantiasa mendapat tempat di media elektronik. Sampai-sampai para bisnismen, pedagang, bujang lapuk, prawan tua, bahkan juga pengambil kebijakan negara menunggu-nunggu para oracle modern itu buat dijadikan pertimbangan dan referensi untuk menentukan langkahnya.

Masa depan dan nasib memang selalu menggugah rasa ingin tahu. Maka manusia digelitiki sama setan kobar, dihasut dan diajak untuk mengeksplorasinya. Sehingga muncullah ilmu ramal meramal, tebak nasib, dan sejenisnya. Dari yang konon memakai logika modern sampai yang memakai jasa jin iprit dan jin tomang.

Sarana yang dipakai pun macem-macem. Ada yang lewat tanggal lahir.
Kalo wong jowo pakai weton dan Nagadina. Hari dan pasaran dikasih angka lalu dijumlah. Jumlahnya menentukan nasib seseorang…. katanya. Ada juga yang menggunakan shio. Tahun-tahun dinamai dengan nama-nama hewan. Trus sifat tahun disifati juga dengan sipat hewan. Maka di tahun Babi konon manusianya jadi nggragas dan cluthak kayak babi. Padahal nggragas dan cluthak itu gak pandang tahun, mau tahun monyet, jaran, babi, kelinci atau tahun badak bunting kalo memang orangnya nggragas tetep saja nggragas.

Ramal meramal ini juga merambah anatomi tubuh. Ada yang dengan membaca garis tangan. Kalo garisnya menggambarkan kesialan, maka garisnya diubah dengan operasi. Ada juga yang menggunakan bentuk wajah. Dari oval, benjo, bunder, kotak sampai jajaran genjang atau belah ketupat ditebak nasibnya. Bahkan yang lebih lucu lagi ada yang menebak nasib dan watak wanita dari bentuk payudaranya. Lha opo ora saru tenan… Dari bentuk yang trepes mblabag sampai type Wongso Subali (kata Kyai Mbeling, ini singkatan dari Wonge ra sepiro Su**ne sak Bal Poli) dikupas semua nasib, watak dan masa depannya. Dasar kurang gaweyan…

Orang yang beriman gak bakalan ikut-ikutan kepencut ingin meramalkan nasibnya. Karena pager-pager syariat amat ketat memagarinya. Mendatangi tukang tebak nasib, dukun, tukang ramal, ahli nujum lantas mempercayai omyangannya, divonis hukuman 40 hari tak diterima ngibadahnya tanpa potongan kurungan penjara. Kata mendatangi ini sekarang berubah bentuk. Bukan lagi nyengklak becak atau mobil trus ndhodhog rumahnya, namun wujudnya berevolusi. Bisa berubah wujud berupa halaman Astrologi di media cetak, bisa juga dalam wujud “ketik-spasi-kirim” dengan bea SMS premium atau dengan klak-klik situs-situs pembacaan ramalan.

Satu riwayat menyebutkan, bahwa suatu ketika pembantunya Abu Bakar r.a menyuguhkan segelas susu kepada tuannya. Abu Bakar adalah orang yang sangat perhatian sekali dengan makanan yang masuk ke perutnya. Namun di hari yang terik saat itu, beliau agak lengah dan dengan tanpa banyak tanya diminumnya susu pemberian pembantunya itu. Setelah ludes, pembantunya bilang, “wahai tuanku, biasanya anda menanyakan setiap makanan atau minuman yang akan anda nikmati. Mengapa sekarang tidak?”

“Oh iya, saya lupa menanyakan. Dari mana asal susu ini wahai pembantuku?” tanya beliau.

“Begini tuanku. Aku ini dulunya pernah menjadi ahli jampi dan tukang ramal di tengah kaumku. Barusan tadi, kaumku mendatangiku untuk memakai jasa keahlianku. Maka aku sanggupi. Dan lantas mereka menghadiahi aku dengan susu yang telah anda minum tadi….”

Begitu mendengar asal muasal susu yang barusan diminumnya itu, Abu Bakar r.a lantas menyogok kerongkongannya, dan muntah dengan hebatnya. Dikeluarkannya semua isi perutnya. Demi menjaga agar tidak ada daging yang tumbuh pada dirinya berasal dari sesuatu yang haram maupun syubhat.

Herannya, saat ini orang-orang malah berlomba mengisi kantong dan perut mereka dengan jalan menempuh profesi yang mengundang hukuman dari Allah itu. Dan pemakai jasa mereka pun bejibun jumlahnya. Rata-rata adalah pengusaha yang kembola-kembali gagal bisnis, prawan tua yang pingin cepet dapet jodoh, bujang lapuk yang gak laku-laku, suami isteri yang lama gak dapet anak, atau orang kaya yang selalu ketiban sial.

Jawaban sang peramal pun seringkali normatif. Saat ditanya ,“Gimana kondisi rejeki saya tahun ini pak Kyai?” Dijawab dengan penuh hikmat, “Baik nduk.. asalkan mau nabung dan agak berhemat , aman-aman saja…” Lhadalah… jawaban model kayak gini, nggak usah ahli nujum juga bisa. Kadang kalo meleset malah menyalahkan kliennya, dianggap gak memenuhi persyaratan yang diinginkan. Dan ketika agak pas, dibesar-besarkan dan ditafsirkan.





Assalaamu'alaikum~~~~jaga hati, jaga panca indramu! jaga sikap + perbuatanmu,JANGANTURUTI NAFSU & AMARAHMU = INGAT! GUSTI ALLAH TIDAK PERNAH TIDUR = ->->-.>

PERKENALAN dari ku:

My photo
jakarta - kediri, alam raya, Indonesia
Dalam impian masa remajaku Kucoba kuangkat kembali karung-karung bernama harapan, ku terjatuh, Kucoba untuk bangkit kembali, Aku terjatuh dan aku terjatuh...... Entah berapa kali aku terjatuh, aku tak dapat menghitungnya, Namun aku masih bertahan, karena hidup tidaklah untuk mengeluh dan mengaduh Hidup adalah perjuangan, memasuki rahasia langit dan bumi, serta mencipta dan mengukir kehidupan adalah tujuan akhirku. Dan kuyakin masih ada hari esok bersama Pelangi. Aku terus berusaha dan berdoa, Aku serahkan tubuh dan jiwaku sepenuhnya untuk-Mu Tuhan,